December 8, 2009

kisah tanpa ujung (sebenarnya bingung mau ngasih judul apa)

perna ga sih merasakan hal seperti ini.. merasa sudah sangat lama mengenal seseorang, padahal pertemuannya belum lama. atau merasa sangat dekat dengan seseorang walau hanya sesekali berbincang. dan ada lagi.. merasa sudah berkawan atau berpacaran cukup lama, padahal sebenarnya baru aja menjalin hubungan itu. aneh bin ajaib memang, seringkali kita merasakan nyaman justru terhadap orang yang baru saja kita temui. apa itu yang namanya seleksi alam? ataukah memang intuisi yang membawa kita kepada orang-orang yang tepat?

tapi, apapun itu.. saia sendiri mengalami kasus yang agak-agak mirip dengan narasi singkat di atas. heehehe. kasusnya agak berbeda karena saia sudah mengenal dia lebih dari sebelas tahun. tapi justru baru kurang dari setengah tahun, kami jadi pasangan kekasih. per 1 Juli 2009 akhirnya dia resmi menjadi pacar saia, setelah masa pendekatan yg kurang dari dua minggu. ini yg buat saia merasa aneh. selama sebelas tahun lebih, kami ga perna bertemu secara intens. komunikasi antara kami hanya selintas lalu. tapi, setelah akhirnya waktu beranjak pada belasan tahun kemudian. kala mungkin seleksi alam jua yang membuat kami bertemu dalam suasana yang berbeda. ternyata dalam waktu yang terlalu singkat, kami saling bisa menjadi pribadi yang tepat untuk yg lainnya. saia merasa sudah sangat lama hidup bersamanya. dan mungkin juga dia merasakan hal yg sama.

kita memang ga pernah tau jalan takdir kita. saia pernah berpacaran selama hampir lima tahun, dan akhirnya hubungan itu harus berakhir. saia tidak tau, akan berapa lama saia dan kekasih saia yg sekarang, bisa bersama. meski waktu bukan jadi ukuran, saia punya harapan bahwa Tuhan akan memberi segala sesuatunya pada saat yg Dia inginkan. semua akan indah pada waktunya.

PS,
sepertinya virus "ga nyambung" sedang menyerang saraf motorik saia, sampe-sampe tulisan ini jadi ga nyambung. hehe, maaf iah :)

PSS,
aku berterimakasih pada waktu yg panjang dan penuh liku yg akhirnya mempertemukan kamu denganku. dan jika bisa aku berharap, takdirku akan berada di sampingmu. hingga ujung waktu.

December 6, 2009

seperti tersangka

hari ini adalah hari pertamaku berada di Malang (lagi!). entah mengapa. aku CINTA sekali dengan kota ini. dimanapun aku berada, aku selalu ingin pulang kembali ke kota ini :) tapi aku ga akan bercerita tentang itu.

aku bingung harus memulai cerita ini darimana. aku sendiri merasa jadi begitu sentimentil ketika harus menyebutkan betapa aku sangat tidak suka didikte. ough, did I finally mention it?? yepp, didikte. aku ga tau darimana aku mendapatkan isitilah ini, karena aku takut penggunaannya akan membuat beberapa pihak jadi seperti tersudutkan. tapi bagaimanapun, aku ga akan mengubah penggunaan kata “didikte” ini.

saat aku beranjak remaja dulu, aku mendapati bahwa diriku sebenarnya berada pada situasi yang membebaskanku melakukan segala sesuatu yang aku anggap dan aku pikir baik. dengan keadaan yang seperti itu, dengan sendirinya jugaa aku diarahkan menjadi orang yang bisa bertanggungjawab atas segala hal yang telah aku pilih. orang-orang sekitarku, saat itu, bertindak sebagai pengamat yang hanya mengamati segala gerak-gerikku. sesekali jika aku sedang ga waras, mereka hanya mengingatkan aku bahwa semua hal memiliki dampak dan konsekuensi. tetap, keputusan akhir selalu berada di tanganku. absolut.

sekarang aku bukan remaja lagi. i’m 24 years old. dan meski aku tetap tidak punya pengalaman sebanyak orang-orang yang berusia jauhh di atasku, aku sendiri sudah punya banyak pengalaman! aku sudah banyak belajar dari masa-masa tahunan yang lalu. bahkan aku tetap belajar dari kejadian kemaren hari. i’m growing up! tapi entah mengapa, justru di masa aku lebih bisa melakukan segala sesuatunya sendiri, dengan rasa tanggung jawab yang lebih tebal, mengapa iah orang-orang di sekitarku justru berlaku terbalik dibanding masa kanak-kanan dan remajaku dulu?? aku yang kini malah menjadi seperti tersangka, persis seperti judul postingan ini. segala tindak-tandukku diawasi. pilihan-pilihann hidupku dibatasi oleh kepentingan-kepentingan yang tidak menyangkut perasaan dan harga diriku. aku harus menjadi ini, aku harus melakukan itu, aku tidak boleh bersama anu, keputusanku harus yang begini, dan lain-lain.

langkahku justru tertahan di kala aku sudah bisa terbang menggapai mimpi-mimpi yang seharusnya bisa kuraih sedikit lagi. mereka, orang-orang itu, sepertinya tidak pernah melihat bagaimana aku berjuang beberapa tahun ini. mereka juga tidak pernah ingin tau tujuan dan pilihan hidupku. yang mereka tau adalah, bahwa mereka sudah memberi aku jalan untuk menjadi seperti apa yang mereka mau! apa aku ini boneka? apa aku ini budak? apa aku ga punya lagi kebebasanku? didikte. yap, aku kini merasa didikte. seperti keyboard pada laptopku ini. ga akan bisa menuliskan perasaanku ini sendiri. harus didikte oleh sepuluh jemariku. tapi aku lebih iri kepada keyboard ini. karena hanya sepuluh jari yang mendiktenya. sedangkan aku… lebih. lebih banyak lagi. dan akan semakin banyak. politik!

December 1, 2009

tulisan yg penuh kekesalan.

hari demi hari berlalu. waktu tetap bergulir tanpa menunggu siapapun. aku ingat beberapa tahun yg lalu pada masa saat aku diharuskan mengisi selembar formulir. selembar saja, namun secara signifikan mengubah jalan cerita kehidupanku. lembaran itu formullir pendaftaran SMPB. dan aku masih ingat tatapan kedua orang tuaku saat mengantarkan aku untuk pertama kalinya hidup merantau. ga bisa kudefinisikan. namun aku cukup dewasa untuk mengerti semuanya.

sampai detik ini, bahkan saat aku menuliskan ini.. aku masih tetap pada pendirianku. orang tuaku juga belum berubah. yg berubah hanya usia kami. kami semakin tua. kerutan yg muncul di wajah mulus ibuku, dan rambut putih ayah yg tumbuh lebat –namun dengan cepat juga dicat menjadi hitam lagi, jelas-jelas adalah tanda betapa mereka telah melalui banyak dekade. tapi, mereka masih orang yg sama. masih orang tuaku dengan sifat dan pendirian yg sama. dan aku, anak pertama mereka.. yg mewarisi hampir semua sifat kedua orang tuaku. yg juga memegang teguh segala pendiriannya. yg juga KERAS KEPALA sama seperti mereka. bukankah ada pepatah yg bilang, buah jatuh ga jauh dari pohonnya.

so, mengapa harus memperdebatkan sesuatu yg jelas-jelas diwariskan secara genetik ini?? like parents, like daughter. jika mereka memang tidak bisa dipaksa, mengapa aku harus dipaksa? apakah yg namanya komunikasi itu harus berlangsung secara vertikal tanpa ada timbal baliknya? huh. jaman sudah semodern ini, masih saja komunikasi bersifat mendikte.

ia sudah deh, aku ga mau membuat waktu berjalan meninggalkan mimpi-mimpi yg (masih) ingin kuraih, hanya dengan terlalu seringnya memperdebatkan masing-masing pendirian. yg pasti, engga ada seorangpun yg boleh menahan langkahku.