Showing posts with label ajeg bali. Show all posts
Showing posts with label ajeg bali. Show all posts

Branding Bali

Posted: 06 October 2008 by ranii mahardika in Labels: , , , , ,
10

Barusan iseng browsing situsnya pemprov. Bali , cuman pengen tau aja wajah situsnya seperti apa . eh , aku baru tau kalo sekarang Bali punya branding sebagai salah satu sarana promosi dan sosialisasi pariwisatanya . kalo Indonesia punya Visit Indonesia 2008 , atau Jakarta mungkin dengan Enjoy Jakarta –nya , kini Bali juga punya sebuah bentuk visual Brand Bali .

Sebenarnya branding ini bukan hal baru , hanya saja , baru kali ini aku (jadi) tau makna yang tersirat dari brand ini . ini kutipan dari http://www.tourism.baliprov.go.id/ tentang penjelasan logo dan penjelasan visual dari Branding Bali . please Check . . . and enjoy it !




Branding Bali


PENJELASAN LOGO

Setelah melewati seluruh tahapan dalam framework metodologi yang tepat, dihasilkan Bentuk Visual Branding Bali dan Tagline yang merangkum value-value yang ditemukan dalam tahapan sebelumnya. Mengacu pada brand differentiation yang mencatat keunggulan Bali di unsur budaya dan alam dalam sentuhan spiritual yang kuat dan khas, maka pada Visual dan Tagline Branding Bali, nampak bahwa aspek spiritual sangat dominan mewarnai. Konsekuensi tentu munculnya berbagai elemen dengan makna filosofi untuk membangkitkan "roh spiritual Bali".

Makna Logo dijelaskan dalam 4 bagian yang meliputi:

1. Penjelasan Visual
2. Huruf/Font
3. Warna
4. Tagline


PENJELASAN VISUAL

Segitiga Simetris – Sama Sisi
Segitiga adalah simbul sangat esensi dari kestabilan dan keseimbangan. Segitiga terdiri dari tiga garis lurus yg ujung dari 2 garisnya saling bertemu ini melambangkan jilatan api keatas (Brahma-sang pencipta), lambang lingga atau pallus (purusha). Segitiga adalah juga perlambang 3 Dewa penguasa alam semesta (Trimurti – Brahma, Wisnu dan Siwa), juga 3 tingkatan alam (Bhur, Bwah dan Swah Loka), 3 tingkatan hidup (lahir, hidup dan mati).

Bentuk segitiga juga menjelaskan essensi branding yang sangat diwarnai Tri Hita Karana, basis value yang akan membimbing kehidupan pada keseimbangan.

Di luar penjelasan diatas, Hindu memiliki beragam filosofi tentang bentuk segitiga yang sarat makna.

Motif ukiran flora yang simetris
Jika di lipat tepat pada garis tengah segitiga, motif ukiran pada sisi kiri dan kanan simetris dan serupa. Hal ini untuk memperkuat kesan "keseimbangan" yang menjadi essensi dari terciptanya: keharmonisan dan kedamaian sesuai Visi Branding.

Ukiran bermotif flora tampil kuat dan dominan. Hal ini menggambarkan "kuatnya kreatifitas orang Bali" yang dikenal sangat terampil melahirkan karya seni. Motif flora dipilih sebagai simbul kedekatan manusia Bali dengan alam yang sekaligus menggambarkan salah satu keunggulan Bali yakni alamnya yang indah (natural).

Mahkota pada ujung Segitiga
Mahkota menggambarkan: Pencapaian tertinggi, kesadaran agung, keagungan dan kemuliaan, sebagai tujuan dari perjalanan meniti keseimbangan yang diisyaratkan nilai dalam Tri Hita Karana ( Keseimbangan dalam hubungan dengan sesama, lingkungan dan sang Pencipta).


HURUF/FONT

Tulisan Bali didesain khusus dengan mengadopsi bentuk dan garis – garis khas dalam aksara Bali. Memilih huruf B dalam Bali dengan bentuk menyerupai angka 3 dan mirip aksara Ang (aksara suci Brahma). Bentuk tersebut juga untuk menjaga konsistensi konsep yang berbasis pada Tri Hita Karana, Segitiga dan Tulisan Bali yang dimulai dengan huruf mirip angka 3.

Bentuk yang spesifik nampak pada huruf L yang menjulang hingga menopang mahkota. Maknanya dibutuhkan komitmen kuat yang langkah berkelanjutan (substain) dari seluruh stakeholder untuk mencapai tujuan tertinggi (mahkota)


WARNA

Branding Bali menggunakan 3 warna yang sangat kuat mencerminkan Bali yakni: Merah, Hitam dan Putih (Tri Datu). Merah adalah representasi dari Dewa Brahma – Sang Pencipta, Hitam – Dewa Wisnu – Sang Pemelihara dan Putih – Dewa Siwa – Sang Pelebur. Kolaborasi 3 warna yang merepresentasikan 3 Dewa (Tri Murti) akan melindungi dan menjaga Bali beserta seluruh kehidupan di dalamnya agar tumbuh harmonis dan berkelanjutan bergerak maju dalam kedamaian.


TAGLINE : Shanti, Shanti, Shanti

Kata Shanti bermakna damai. Jika mengucapakan kata Shanti kita akan dialiri spirit kedamaian dan keharmonisan. Bagi orang Hindu, Shanti umumnya di ucapkan 3 X dengan menambahkan kata Om (aksara suci Ida Hyang Widhi Wasa-Tuhan Yang Maha Esa) pada awal dan akhir pengucapannya yakni Om Shanti, Shanti, Shanti Om yang bermakna, semoga damai di hati, di dunia dan di akhirat. Pengucapan 3 X ini juga konsisten dengan konsep awal yang berbasis pada penekanan pada angka 3 ( Tri).

Shanti, Shanti, Shanti merepresentasikan kedamaian pada bhuwana alit dan agung (diri dan seluruh semesta) yang akan mengetarkan vibrasi kesucian hingga menebarkan aura dalam yang mendamaikan dan menyeimbangkan kehidupan semua mahluk.

Demikian informasi tentang Branding Bali yang bisa aku share buat temen-temen . kalo ada temen-temen yang ga ngerti beberapa istilah yang terdapat di atas , hubungi aku aja lewat blog ini , atau lewat ym , atau lewat imel . hhehehehe

ajeg bali

Posted: 26 August 2008 by ranii mahardika in Labels:
1

Ajeg Bali . .

pernah dengar kan kata-kata di atas ??
buat temen-temen masyarakat Bali tentunya sudah tidak asing lagi dengan kata-kata tersebut.
entah kenapa , saia sebagai seseorang yang hidup di Bali , tergoda untuk mengomentari kata-kata dan (mungkin) makna yang tersirat di dalamnya .

terus terang saia sempat kaget saat mendengar Ajeg Bali dicetuskan beberapa tahun yang lalu . saia sendiri lupa (sebenarnya ga tau sih) siapa yang melontarkan kata-kata itu . tapi makna yang dimaksud dari ajeg adalah "kokoh" , "kukuh" atau "tetap" .
saia sebagai orang awam (saia bukan budayawan , sastrawan ataupun ahli bahasa) , mengartikan ajeg bali sebagai Bali yang kokoh , Bali yang kukuh atau Bali yang tetap . secara harfiah saia mengartikannya begitu .

Istilah “ajeg” merujuk kepada pengertian stabil , tetap, dan konstan. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (1976) disebutkan bahwa “ajeg” atau “ajek” (Jawa) bermakna tetap; tidak berubah .

setelah saia mencoba memaksimalkan fungsi otak saia untuk menalarkan (mengembangkan) arti harfiah tersebut , saia mendapati bahwa Ajeg Bali yang (mungkin) dimaksud oleh para ahli tersebut adalah mempertahankan kebudayaan Bali agar tetap kuat atau kokoh walaupun jaman kini telah menjadi sebuah lingkungan pasar bebas (globalisasi , red) .

saia berpikir lagi , bahwa Ajeg Bali mungkin hanya berupa wacana belaka karena terlalu banyak masyarakat Bali sendiri kurang memahami makna yang terkandung dalam kata -kata Ajeg Bali itu sendiri . iiiah kah ? apa tindakan-tindakan nyata yang bisa masyarakat lakukan untuk mewujudkan Ajeg Bali itu ? apakah Pemerintah Bali sudah melakukan sesuatu yang nyata yang bisa dikatakan sebagai tindakan "melestarikan" Bali itu sendiri ?

ssaia pernah membaca sebuah tulisan dari http://phadli23.multiply.com/journal/item/268 mengenai ajeg Bali . saia semakin menyadari bahwa Ajeg Bali sebenarnya adalah sebuah konsep yang baik , konsep sederhana yang sebenarnya sangat istimewa bagi masyarakat Bali untuk mempertahankan Budaya , adat istiadat , kehidupannya agar tidak tergerus oleh globalisasi yang menggila .
hanya saja , mmenurut saia , ini (Ajeg Bali ,red) saat ini masih berupa konsep yang tampaknya sulit diwujudkan . coba baca http://www2.kompas.com/kompas-cetak/0401/07/Bentara/781054.htm .

nah , Ajeg Bali , sekali lagi adalah sebuah konsep yang baik demi masa depan Bali agar nasib masyarakat Bali yang hidupnya banyak bergantung dari kepariwisataan Bali , tidak menjadi seperti pasca bom Bali 2002 yang lalu .

pada saat-saat itu Bali benar-benar mengalami apa yang namanya mati suri . Bali mendapatkan karma nya karena telah memperlakukan budaya dan adat istiadatnya dengan semena-mena . pariwisata di-eksploitasi dengan menghalalkan banyak cara . sektor kehidupan lain dianaktirikan . kehidupan pertanian masyarakat Bali yang awalnya merupakan tonggakan hidup masyarakatnya telah dilupakan . semuanya berbondong-bondong mem-pariwisata-kan "dirinya" .

memang , Ajeg Bali yang sekarang mem-booming seharusnya mampu menjadi tolak ukur , menjadi sebuah masterpiece bagi masyarakatnya (dengan dipimpin oleh pimpinan yang tidak hanya mengerti konsep Ajeg Bali , namun juga mmapu mewujudkannya!) agar mampu membawa Bali tetap berkibar di dunia internasional , dengan tetap mengutamakan kultur , adat istiadat dan kehidupannya . tanpa harus ikut-ikutan menjadi "orang lain" dengan alasan ekonomi .
(ran)