Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

saia, peminta-minta, dan penjual kesed.

Posted: 25 January 2010 by ranii mahardika in Labels: , ,
8

tadi sehabis makan siang di sebuah warung langganan, saia melihat dua orang. di mata saia, mereka adalah orang asing. dua orang berbeda, dengan kondisi fisik yang juga berbeda. maaph kalo saia ga sempat foto kedua orang itu, saia sendiri ga kepikiran untuk menulis ini sekarang. hehehehe.. biar saia coba gambarkan saja.

orang yang pertama, seorang perempuan, umurnya sekitar 35-40 tahunan. kulitnya coklat karena terbakar matahari. pakaiannya layak, sama sekali ga terlihat ada lubang atau robekan. di kepalanya ada sebuah topi yang, meski kusam tapi masi layak pakai. di pundaknya ada kain batik panjang yang dililitkan di badannya. mungkin kain itu digunakan untuk menyeka keringatnya. fisiknya terlihat segar dan kuat, meski saat bertemu saia tadi terlihat sedikit letih. perempuan ini berjalan ke arah warung tempat saia makan. namun ia terhenti di depan pintu saja. sejak awal melihatnya, saia suda tau siapa perempuan ini. dia bukanlah pelanggan warung. dia adalah seorang peminta-minta. saia sebut dia, pengemis. orang yang kalo bisa disebut bekerja pekerjaannya menengadahkan tangannya kepada orang lain, berharap belas kasih demi sejumlah uang. tanpa melakukan sebuah balas jasa. tanpa melakukan pekerjaan tertentu. tanpa melakukan apa-apa. hanya menelungkupkan tangan, menyodorkannya kepada orang lain, dan sedikit berkata, “Nyuwun..” jelas mereka berharap diberi. jika ga diberi, mereka tinggal berlalu. namun kadang, mereka berlalu sambil ngedumel, ngomel-ngomel, marah, bahkan sering saia jumpai yang sampai mengumpat!

heran saia dengan orang-orang seperti ini. kenapa mereka ga memilih hal lain untuk dikerjakan? mereka punya tenaga. mereka masih bisa melakukan pekerjaan lain. anggota badan mereka lengkap *kecuali untuk beberapa kasus berbeda*, bahkan mereka masi sanggup berjalan jauh menembus hari untuk melakukan “pekerjaan” mereka itu.

berbeda dengan orang kedua yang juga saia temuii. saia melihatnya begitu keluar dari warung. seorang laki-laki, saia ga bisa menerka usianya. mungkin sekitar 30 tahunan. kulitnya coklat, cenderung hitam. hitam yang juga akibat terbakar terik matahari. jika si perempuan berbadan segar dan terlihat bergitu kuat, berbeda dengan lelaki yang saia temui kemudian. saia ga ingin bilang ini, tapi saia ga nemuin istilah yang pas untuk menggambarkan si lelaki. dia susah berjalan, kedua kakinya membentuk huruf X dan lebih panjang di sisi kiri. saia pikir orang itu perot. cacat. i have no idea what to describe this, aarrghhh…! orang ini berjalan ke arah saia sambil memikul banyak keset di kanan kiri. dia terhenti di sebelah warung tempat saia makan. lelah sekali. keringatnya bercucuran, dan saia ga melihat ada kain penyeka keringat. dia menggunakan tangannya saja. dan saia tergerak untuk membeli satu buah keset kain itu.

ketika saia tanyakan harganya kepada si penjual keset itu, saia baru tau jika dia juga menderita tuna wicara. dia berusaha mengatakan, “Empat ribu..” sambil mengacungkan keempat jari tangannya. saia agak kaget begitu tau harga ssebuah keset ini. saia memang ga perna tau harga peralatan rumah tangga. ga pernah mau tau, tepatnya! jadi awalnya saia pikir harga keset itu akan menyentuh belasan ribu rupiah. tapi begitu tau harganya “hanya” empat ribu, saia cuman bisa melongo sambil merogoh-rogoh saku celana.

empat ribu rupiah saja untuk satu keset. gimana kalo hari itu dia lagi apes? ga ada yang butuh keset, dan dagangannya ga laku. dan kalaupun laku beberapa, cukupkah untuk makannya sehari-hari? apakah dia hidup sendiri, atau adakah orang lain yang menjadi tanggungannya?

 

itu yang terus terngiang di pikiran saia. dengan kondisi yang serba kekurangan, penjual keset ini masi mengandalkan tenaganya untuk berjualan. saia ga tau darimana dia mulai berjualan, saia juga ga tau dia akan berjalan kemana saja. yang jelas, dia berusaha. demi empat ribu rupiah, yang mungkin ga semuanya jadi hak miliknya.

saia ga yakin apakah saia bisa melupakan hari ini. kejadian seperti ini memang bukan kejadian luar biasa, sampai harus saia tuliskan disini. saia juga ga akan mengumpat pada dunia yang ga adil ini. hari ini hanya sepenggal kisah yang ingin saia bagi. hari ini ada kisah antara saia – peminta-minta dan penjual keset. entah temen-temen mau berkaca pada tokoh yang mana : saia , peminta-minta , atau penjual keset ? :D

pembelajaran sebagai seorang umat (Hindu).

Posted: 16 January 2010 by ranii mahardika in Labels: , , , , , ,
0

saia hanya seorang umat manusia yang sudah disandangkan sebuah iman (baca : agama) sejak lahir oleh kedua orang tua saia. bahkan jauh ketika ibu saia tau bahwa beliau mengandung, iman itu suda menjadi milik saia. begitu lahir, semua bayi pasti ga bisa memilih akan memeluk iman yang mana. seorang bayi merah hanya bisa bicara melalui tangisannya, yang oleh orang-orang di sekitarnya justru menghadirkan raut bahagia. dan karenanya, agama seorang bayi sudah ditentukan oleh keberadaan orang tuanya.
saia beragama Hindu. dan sejak kecil, ajaran Hindu dan budayanya begitu lekat dalam benak saia. saia diajarkan untuk melakukan Tri Kaya Parisudha.

goes to 2010

Posted: 03 January 2010 by ranii mahardika in Labels: , , , ,
0

hey.. selamat tahun baru 2010 semuanya..!!!
meski nampak berat di awal tahun 2009 yang lalu, tetep aja perjalanan hingga tiba di tahun 2010 terasa begitu cepat. banyak momen yang terjadi di tahun itu. ada yang menyenangkan, sedih, ada masalah-masalah  yang bisa diselesaikan dengan baik, tapi ada juga yang belum terselesaikan. ada kawan-kawan baru, ada kisah-kisah baru di dalamnya. ada pencapaian keberhasilan, bahkan ada banyak kegagalan. banyaaak sekali yang terjadi dan berlalu begitu saja. itu semua menjadi kenangan-kenangan yang terbungkus rapi dalam 2009.

sesuatu yang terlewatkann..

Posted: 29 July 2009 by ranii mahardika in Labels:
0

belakangan iniii saiaa merasa anehh dengan hidup saia. sepertinyaa, ada sesuatu yang terlewatkan.. seperti ada sesuatuu yang mengganjal.. dan sesuatuu itu masii belum bisa saia temukan sampaii sekarang. mungkinn ini hanya perasaan saiaa. mungkin jugaa ini akibat sesuatu yang telahh saia lakukan. tapii apaaaaa?? huh! jadi bingungg.....

tempo tempo

Posted: 27 June 2009 by ranii mahardika in Labels: , , ,
3

minggu lalu, kapasitas otak sedang penuh-penuhnya.. ada sajaaa ide untuk nulis setiap saat. sampai harus menahan diri untuk ga langsung memposting draft tulisan di hari yang sama. beda lagi dengan minggu ini. ga tau deh, apa ngambek, males, blank, lagi bodoh, atau gimanaa.. otak ini rasanya kayak lagi ga ada isinya! jangankan untuk posting, ngerjain beberapa hal yang uda menjadi rutinitas seharihari aja kayaknya ga sanggup gitu.

sama seperti mood. barusan aja lagi seneng.. ga tau kenapa, ga lama berikutnya, ada joke yang biasanya sih malah bikin suasana jadi lebih seru.. tapi dengan mood yang  lagi tempo tempo gini, joke itu akhirnya malah "menyentil" sentimentalku. eh, ujung-ujungnya jadi ngambek (baca : marahmarah ga jelas). heran deh! maunya apa sihh?

hal yang sama berlaku juga ketika saia harus melakukan ritual pembersihan wajah. biasanya kan bersihin wajah tuhh pagi, trus setelah seharian beraktivitas, en terakhir malam hari sebelum tidur. saia ini sadar banget kalo wajah saia ini ga mulus. si ibu suda membawa saia ke seorang dokter kulit, untuk diberi serangkaian perawatan demi memuluskan si wajah. padahal untuk "pemula", rangkaian produk perawatan yang diberikan kepada saia hanya berupa facial wash, toner, krim pagi yang mengandung tabir surya, dan krim malam. cuman empat biji itu aja! tapi yang pasti saia pake hanya facial washnya, karena memang produknya sendiri uda nangkring di keranjang mandi saia. yang lainnya..?? jangan tanyakan deh. kalo inget en lagi baik sama si wajah, saia baru memakai keempat produk itu. kalo engga, wajah ga mulus titip salam deh buat si niat! hehehe

tapi, justru hal seperti inilah yang membuat hidup manusia (baca : saia!) jadi berwarna. tempo tempo.. saia sadar bahwa saia ini hanya manusia biasa, as a human being. dan karena saia hanya manusia biasa, saia ini bisa merasakan malas, bahagia, semangat, sedih, jatuh cinta!, rapuh, sakit hati, rajin, patah hati, senang, sendirian, dan sebagainya. dan semua perasaan itu bisa saja datang dan pergi sesuka mereka. tempo tempo. sak karepe dewe, kenehne pedidi, sesukanya. dan justru dari tempo tempo ini pulalah, manusia (baca : saia lagi) mendapat pengalaman dan pelajaran untuk menjadikan dirinya jadi manusia yang lebihh baik lagi di masa mendatang. sounds wise nih, but I do believe in process.. and this is one of my process to be wiser. tempo tempo berhasil, tempo tempo gagal juga. LOL. but, this's life. kehidupan mengajarkan kita cara hidup dengan berbagai cara. tempo tempo. hemm~

waktu

Posted: 15 June 2009 by ranii mahardika in Labels: , ,
0

apa yang tementemen pikir tentang waktu??

kadang waktu berjalann sangat lamban. namun di kala yang lainnya, waktu berlalu sangat cepat meninggalkan kita begitu saja. waktu jua yang membuat kita bertambah keriput dan buncit. karena waktu, matahari dan bulan bergantian menjadi penyuluh alami bumi. waktu juga bisa berbuat apaaaa saja terhadap kita. waktu membuat kita tertawa terbahak-bahak atau malah menangis darah ga terkira. kadang kita menyesali waktu, kadang malah melupakan.

waktu bahkan bukan sebuah benda. ga juga berwujud. dia hanya berupa hitungan maju.. atau mundur. hitungan yang bertambah atau berkurang dalam  interval yang pasti, dan ga akan pernah berhenti. meskipun banyak khayal manusia yang ingin menghentikan waktu, waktu tetap ga bergeming menjemput kita pada suatu keadaan. waktu akan tetap melaju, sementara terlalu banyak dari kita yang ga mengikuti pergerakan waktu.

kenapa saia menulis ini? yaahh, seperti yang uda saia tulis di atas. waktu bisa berbuat apaa saja terhadap kita. begitupun kepada saia. waktu pernah mengingatkan saia akan kehidupan masa depan yang mungkin terjadi. waktu selalu mebuat saia melongok tentang bakal hidup yang mungkin saia peroleh. namun waktu selalu punya syarat. bukan karena waktu ga tulus. waktu sebenarnya ga pernah peduli akan kita, tugasnya hanya mengantarkan kita. waktu menyampaikan pesan tentang masa depan melalui pengalaman. dan waktu ga bisa berbuat apaapa kala kita mulai lalai untuk sampai pada tujuan terakhir, dengan barang bawaan yang seharusnya kita bawa.

apa syarat dari sang waktu??

patutkan kita hanya terpaku pada detikdetik yang dia dendangkan tanpa suara itu? layakkah kita manusia hanya menuntut waktu untuk menanti kita? apa iia dua puluh empat jam sehari kurang? atau malah berlebihh ternyata..? mana mungkin kita meminta waktu kembali jika pada saat yang seharusnya, kita hanya berdiam diri?? bukankah seharusnya, mulai sekaranglahh kita harus bertindak? ga usa lebih cepat lebih baik.. karena semuanya seharusnya berada pada waktu yang paling tepat. daripada menyesal dan ingin waktu kembali, kenapa ga dari sekarang kita melakukan sesuatu yang sesuai dengan yang seharusnya??

waktu ga akan pernah menunggu kita. waktu juga ga akan pernah kembali. waktu ga akan pernah cukup jika kita melakukan sesuatu yang sesuai dan seharusnya kita lakukan. jangan sampai waktu yang mengatur kita, buatlah waktu tunduk kepada kita.. sehingga ketika kita tiba di tempat tujuan terakhir, kita ga akan meninggalkan sesal. enjoy your time, friends.. but not to be wasted.

valentine suda usang

Posted: 27 February 2009 by ranii mahardika in Labels: ,
1

Sekarang ini tanggal 27 Februari 2009, belum genap dua minggu sejak perayaan hari kasih sayang di seluruh dunia, atau yang biasa kita sebut dengan Valentine’s Day. aku jadi teringat ketika beberapa hari sebelum tanggal 14 yang lalu, dimana banyak orang terutama sih para kawula mudanya yang beramai-ramai mempersiapkan berbagai macam rencana dan berjenis-jenis hadiah yang rencananya akan diberikan kepada orang-orang terkasih mereka. Temen-temen, yang merayakan maupun tidak pun juga pasti menemukan “kehebohan” sejenis toh beberapa hari menjelang VD itu?

Nah, coba lihat sekarang… coba perhatikan apa yang terjadi di sekitar kita. Masih adakah keriuhan orang-orang yang membincangkan VD? Masih ramaikah orang-orang memberikan hadiah-hadiah manis dan romantis kepada sang Kekasih atau orang-orang terdekat mereka? Masihkah orang-orang rela berpanas-panas di depan kompor untuk mencairkan batang demi batang coklat yang akan habis dalam sekali lahap itu?

Jikapun masih ada yang melakukannya, apakah jumlah dan “rasanya” sama seperti saat perayaan VD 14 Februari yang lalu?

Kadang, saia jadi bingung. Apa sih yang membuat orang-orang menjadi semacam “tergila-gila” dengan satu hari di tanggalan 14 Februari itu, sehingga kebanyakan dari mereka seperti mengadakan “ritual khusus” untuk memperingatinya?? Bukankah di hari itu sama saja dengan hari-hari lainnya? Bukannya untuk menentukan satu hari tersebut menjadi sebuah “Hari Kasih Sayang” tidak dibutuhkan perhitungan hari, wuku, atau sasih-saasih tertentu? seperti Hari Raya Galungan, Kuningan, Hari Raya Idul Fitri, Paskah, Waisak atau yang lainnya.

Saia menulis ini bukan karena saia membenci VD. Saia ga munafik, saia pernah memuja hari ini pada masanya dulu. Namun, semakin saia beranjak dewasa, saia sadar.. makna dari VD bukan hanya sekedar sebagai bentuk hura-hura atau euforia akan pembuktian cinta segumpal mahluk yang bernama manusia ini. Semangat VD lebih dari sekedar itu, dan tidak berlangsung hanya pada hari itu saja. Jika saja, setiap orang di dunia ini menyadari bahwa cinta kasih adalah sebuah bentuk hakiki dari setiap hubungan yang ada di dunia ini, maka saia yakin tidak akan ada kebencian di dunia. Tidak akan ada penindasan, tidak akan ada permusuhan, bahkan tidak akan ada perang di dunia ini. Bahkan, jika saja setiap orang mengerti bahwa cinta itu bukan hanya “dipersembahkan” untuk sesamanya, tapi juga kepada setiap mahluk hidup di bumi ini… ga akan ada yang namanya Global Warming, temen-temen. Karena, dengan mencintai setiap mahluk hidup, itu berarti kita mencintai lingkungan sekitar kita, mencintai bumi tempat kita berteduh ini, mencintai setiap binatang yang bagian dari rantai makanan terbesar di dunia, mencintai anugerah yang dikucurkan oleh Sang Kuasa, yang sebenarnya tidak pernah putus ini.

Maka, VD pun tidak akan usang setiap tanggalan berganti dari tanggal 14.. maka, VD akan menjadi baik dengan “ritual” yang lebih baik lagi… maka VD bukan lagi menjadi milik mereka-mereka yang mengagungkan makna cinta yang sempit. Bukankah begitu lebih baik??

parameter ke"mayoritas"an

Posted: 04 October 2008 by ranii mahardika in Labels: , , , ,
4

“Dari Bali iia ?”

Aku mengangguk pelan .

“Wah , enak iia di Bali , banyak pantai , banyak LIBUR !”
Aku hanya tersenyum ringan .

“Eh , di Bali itu kok ada patung-patung , pohon-pohon besar , batu en banyak benda yang diselimuti kain kotak-kotak hitem putih sih ? trus , dikasih sajen-sajen gitu . kenapa sih ?”

Aku mulai menjelaskan sepanjang pengetahuanku , mulai dari jaman dahulu dimana kami (Orang Bali ,red) masih menganut aliran dinamisme dan animisme ; sampai adanya prinsip Tri Hita Karana (Parahyangan , Palemahan , dan Pawongan ,red) . jadi “perlakuan” yang seperti dia tanya itu adalah salah wujud dari apa yang disebut “Palemahan” alias hubungan manusia dengan lingkungan ; sampai ujung-ujungnya aku menjelaskan “sajen” yang dimaksud itu disebut “canang” dan kain kotak-kotak hitam putih itu dinamai “kain poleng” , dan tetek bengek lainnya yang terkait pertanyaan tadi .

“Eh , sebenarnya tuhannya orang Bali itu Sang Hyang Widhi atau Brahma atau Wisnu atau siapa sih ? kok banyak banget ada tuhan ?”

Lagi-lagi aku berusaha menjawab pertanyaan itu , sambil berusaha mencari kata-kata yang mudah dan berupaya juga untuk mencari contohnya dalam agama lain . aku bilang kalo hanya ada satu tuhan , Hindu adalah agama yang menganut Monoteisme , tuhannya adalah Sang Hyang Widhi . tuhan kami mempunyai berbagai macam fungsi dan dinamai sesuai dengan fungsinya . aku ambil contoh ringan aja , sama seperti seorang manusia , “Bapakmu misalnya” aku bilang gitu . kalo di rumah , bapakmu adalah kepala keluarga , dan beliau dipanggil “Bapak” . kalo di sekolah (Bapaknya seorang guru) beliau dipanggil “Guru” . kebetulan bapaknya dulu pernah menjabat sebagai ketua RT , dan dipanggil “Pak RT” . nah , satu orang saja kan ! tapi punya banyak sebutan sesuai dengan fungsinya di masyarakat .

“Ohh , trus kenapa kalo kalian sembayang harus pake bunga ?”

Hei , aku mulai bingung . temanku ini bertanya karena memang dia ingin tau atau ada seekor udang di balik mahluk seorang manusia *dia , maksudku* . aku ga mau sembarangan menjawab , karena aku pikir setiap kata yang aku ucap pasti akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lainnya . akhirnya aku yang balik bertanya , “Kalo kamu , kenapa kok sembayang pake penutup badan en dialasi gitu ?” dia menjawab dengan semangat , yang aku tangkap intinya adalah “wajib menutup aurat dan karena perintah agama” .

“Nah , dalam ajaran agamaku , Tuhanku tidak pernah mengatur kami untuk berpakaian seperti apa atau harus menggunakan apa untuk bersembayang . Beliau hanya mengisyaratkan sebuah pakaian yang bersih dan suci , untuk dikenakan . nah , mengapa bunga ? sebenarnya ada sebuah ayat dalam kitab suciku yang mengatakan bahwa Tuhanku “mengijinkan” kami menggunakan apa saja untuk “bertemu” denganNya . bunga , air , api , apapun , karena semua itu hanyalah media . hanya sebuah perantara . kami bahkan tidak menggunakan apapun saat melakukan Tri Sandhya .”

Aku menjawab demikian . aku melihat rasa semakin ingin tau dari wajah temanku itu . aku sadar , dari jawabanku malah akan timbul semakin banyak pertanyaan . dan bener aja . dia langsung bertanya tentang Tri Sandhya , tentang kitab suci (kami) , tentang pakaian sembayang *mulai dari pakaian sembayang sampai jenis-jenis pakaian adat yang ada* , tentang rumah khas Bali yang ada banyak gedungnya . ga kelupaan , dia bertanya tentang Ngaben . bertanya lagi dia tentang ritual Potong Gigi , “Kenapa giginya harus dipotong ?” , “Gigi yang mana yang harus dipotong?” , “Kapan harus potong gigi?” , “Berapa kali harus potong gigi?” , “Sakit ga?” . . . . .
Dan untuk pertanyaan yang terakhir aku jawab , “Tunggu iia , nanti aku kabari sakit atau enggaknya . aku belum merasakan , masih AKAN merasakan di bulan Oktober nanti .” (sesi tanya jawab ini dilakukan saat aku masi di Malang , sebulan yang lalu)

^^

Aduuh , susahnya jadi orang Bali [!!!] . apalagi untuk orang-orang perantauan yang kemudian tinggal dan menjadi kaum minoritas *dalam hal ini aku bilang minoritas dalam hal keyakinan beragama iia*

Selalu ada banyak pertanyaan . selalu ada banyak “pandangan miring” . selalu ada saja pertanyaan yang menyudutkan . tidak banyak dari mereka (si penanya ,red) yang berusaha bertanya untuk menambah pengetahuan mereka . kebanyakan pada awalnya mereka bertanya untuk “menghakimi” dan akhirnya mereka hanya manggut-manggut seraya berkata , “Ooooo . . . . Gitu iia ?”

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar kenyataannya demikian , tapi mengapa orang-orang itu berpandangan sempit sekali iia ?? kenapa mereka sangat merasa “besar” dan “benar” ?? padahal hakekat beragama adalah hubungan pribadi *sangat pribadi* antara seorang manusia dengan Tuhannya . hubungan yang sifatnya vertikal ini , tidak dapat dinilai oleh sesama mahluk ciptaan TUHAN . sama-sama mahluk ciptaan kok malah saling beranggapan lebih .

Tolong jangan menganggap tulisan ini terlalu serius . tulisan ini bukan sebuah pembelaan , awal perdebatan , penyangkalan , atau penolakan terhadap sesuatu . ingatlah bahwa negara Indonesia adalah sebuah negara Hukum , yang artinya segala sesuatunya diatur oleh undang-undang . Indonesia bukan negara yang menganut ajaran agama tertentu , bukan negara Islam , bukan negara Hindu , bukan negara Kristen , bukan negara Protestan , atau bukan negara Buddha . jadi yang berlaku di Indonesia adalah hukum dan peraturan perundang-undangan , bukan agama . kita memang bukan negara yang menganut sekularisme sehingga segala sesuatunya dilakukan masing-masing . tapi tetap saja , kita ini bukan negara yang berlandaskan agama .

Jikapun ada sebuah agama yang mayoritas di negara ini , haruslah tetap dipahami bahwa bukan mayoritas itu yang menjadi hukum disini . mayoritas tetaplah mayoritas , HANYA mayoritas , BUKAN HUKUM . tapi , di Indonesia berlaku ironi terhadap pemahaman tersebut . hiks hiks hiks hiks

Aku hanya menyesalkan sikap beberapa oknum yang sebenarnya tidak mewakili pihak tertentu tersebut , yang akhirnya membuat masyarakat umum “mengernyitkan dahi” terhadap analogi yang mereka (oknum tersebut) wakili . intinya , ulah oknum itu justru membawa pandangan negatif terhadap apa yang mereka presentatifkan . kasihan apa yang mereka anggap “telah mereka wakilkan” . padahal mereka hanya sebagian kecil dan belum tentu mewakili semua unsur yang ada .

Aku tidak pernah beranggapan bahwa agama yang tercantum dalam KTPku adalah agama yang paling baik . karena yang namanya agama , dinilai baik tidaknya bukan dari anggapan seseorang , sekelompok , atau bahkan sedunia . ini AGAMA , teman-teman . ini adalah sebuah kepercayaan , keyakinan hidup . inilah yang kemudian menuntun hidupmu sampai hidup membawamu kembali pulang .

Ini adalah sesuatu tentang keyakinan yang seharusnya tidak “ditindas” oleh orang lain . untungnya aku pernah dan masih punya kesempatan mencicipi melihat lebih banyak “pemandangan” lain di daerah lain . jadi aku masih bisa melihat banyak hal lainn di belahan dunia lain . perbedaan itu indah , perbedaan itu yang membuat dunia menjadi berwarna . sebuah dominasi yang dominan malah akan menjadi ke-mono-an yang homogen , yang justru menjadikan sesuatu “membosankan” . dalam hal ini , bukan kebosanan yang menjadi dampak dari dominasi mayoritas itu .

Bentrok sosial yang mewarnai pemberitaan Indonesia , adalah dampak dari dominasi tersebut . mau sampai kapan Indonesia akan berkembang tanpa pernah maju ??

Tulisan ini tidak akan mengajak untuk melakukan sesuatu , karena sebuah langkah kecil tidak bisa berasal orang lain . sebuah langkah kecil diawali oleh diri sendiri .

pengantar tidur

Posted: by ranii mahardika in Labels: , ,
6

Hai hai . . . .

Uda lama gga mengisi blog ini , maav iia . . beberapa hari inii aku agak sibuk dengan persiapan-persiapan untuk tanggal 10-11 Oktober nanti . capek bangett , meskipun yang aku lakukan cuman nganter-nganterin ibu kemana-mana , atau beres-beres rumah plus ngerapiin ruang demi ruang iang ada di rumah . ga gampang lho . soalnya , meskipun cuman ada tiga kamar utama (ga termasuk kamar bapakku lho iia?) , tapi masing-masing kamar itu paling tidak punya 3 rak dan atau lemari lhoo . . .

:biuhh !!

Maunya sih aku memajang foto2 hasil “pekerjaan”ku di postingan ini , tapi kok sepertinya gga penting banget iia ?? iia kapan-kapan aja deh aku buatkan postingan iang lebih bermutu lagi . hhehehe

Ngomong-ngomong ,
Hari raya tahun ini seperti ga ada dengungnya buatku . kenapa iia ? rasanya tuh adem ayem ajaa . ga ada “nikmat”nya seperti tahun-tahun sebelumnya . biasanya sih setiap tahun selalu menjadi sesuatu yang kutunggu-tunggu . hari raya adalah saat dimana aku bisa berkumpul dengan sahabat-sahabat dan teman-teman sekolahku duluu . biasanya kami berkumpul dan saling mengunjungi di hari raya . selain itu , biasanya pula kami punya acara jalan-jalan bersama .

Tapi , hal itu berbeda dengan tahun ini . tahun ini aku cuman menyambangi rumah Phipit , dan cuman ketemu dengan Eka PD *selain ketemu Agustra , Wahyu , Ngakan dan Cacing tentunyaa* aku sama sekali gga ketemu sama temen-temen yang lain . sama sekali gga menyambangi atau disambangi oleh mereka . huummm~ aneh sih rasanya , apalagi kami sudah terpisah oleh jarak sekarang . ada yang di Malang , Denpasar , Jogja , Jakarta , Surabaya . momentum hari raya Idul Fitri adalah waktu yang paling tepat untuk kami untuk bisa berkumpul kembali , walau hanya dalam hitungan beberapa hari .

Memang perubahan adalah sesuatu yang bisa membuat kita menjadi kehilangan . kehilangan akan apa ? tentunya kehilangan akan sesuatu yang “berubah” tersebut . kita kehilangan “sesuatu yang dulunya” begitu . untuk kasus ini , aku kehilangan : sebuah masa . sebuah masa di medio beberapa tahun yang lalu , yang orang-orang bilang : Masa SMA .

Aku gga ingin bercerita tentang tiga tahunku di sekolah menengah umum dulu . bakal jadi satu buku kalo sampai ditulis . hhehehe
Tapi intinya , waktu akan selalu berjalan . waktu akan meninggalkan kita apabila kita ga ikut bergerak . jadi , baik kita maupun waktu akan selalu bergerak . akankah kita mendahului waktu ? atau akankah waktu jauh di depan kita ??

Jawabku , “TIDAK !!”

Karena waktu memang tidak akan berkejaran dengan kita . waktu hanyalah sebuah media untuk mengantarkan kita ke sebuah masa yang nantinya kita sebut , Pengalaman . waktu membawa kita mengalami sebuah pengalaman . waktu membawa kita tanpa perasaan , karena itulah tugasnya . tapi mengapa kita terkadang merasa sedih , senang , rindu , akan sebuah memori di masa lalu ?

Padahal waktu hanya sebuah “media transportasi” menuju rumah kita . sama seperti sepeda , sepeda motor atau mobil yang biasa mengantar kita kemana-mana . mereka tidak punya perasaan , tidak hidup , tidak bernyawa . . . tapi ketiadaan mereka di suatu waktu , bisa membuat kita merasa kehilangan . sama seperti waktu . kenapa ? kenapa kita “rentan” oleh waktu ?? mengapa kita “menyerah” oleh waktu ??

Karena kita manusia . iia , adalah sebuah kemanusiaan yang manusiawi bagi seorang insan untuk merasa(kan) sesuatu . waktu sama sekali bukan manusia , ia tidak bernyawa , tapi ia mampu membuat manusia menangis atau tertawa . tapi , manusia sendiri kadang lupa . manusia sering lupa akan hakekat waktu . sama seperti aku saat ini . saat aku mengutuki Hari Raya tahun ini . aku lupa bahwa waktu akan selalu membawaku kepada sebuah pengalaman . pengalaman akan hidup , yang kemudian adalah bekalku untuk kembali pulang .

Pengalaman-pengalamanku di tahun-tahun yang lalu seharuusnya sudah membuat aku mengerti banyak hal . dan dari “pengertianku” , seharusnyalah aku bisa menerima sebuah kondisi , misalnya yang seperti ini . bukannya malah mengutuki nasib karena tidak bisa berkumpul .

:huhhh !!

Padahal waktu sudah mengajarkan aku banyak hal . tapi mengapa aku masih juga bodoh iia ?? nah , adakah di antara kalian yang bisa membantuku memahami semuanya ?

Paling tidak , sebuah pengantar tidur (dadakan) ini membuatku sadar , “Aku belum dewasa!”

coba dipikir

Posted: 08 September 2008 by ranii mahardika in Labels:
0

Pernahkah anda menatap orang-orang terdekat anda saat ia sedang tidur?
Kalau belum, cobalah sekali saja menatap mereka saat sedang tidur.
Saat itu yang tampak adalah ekspresi paling wajar dan paling jujur dari seseorang.

Seorang artis yang ketika di panggung begitu cantik dan gemerlap pun bisa jadi
akan tampak polos dan jauh berbeda jika ia sedang tidur. Orang paling kejam di
dunia pun jika ia sudah tidur tak akan tampak wajah bengisnya.
Perhatikanlah ayah anda saat beliau sedang tidur. Sadarilah, betapa badan
yang dulu kekar dan gagah itu kini semakin tua dan ringkih, betapa rambut-rambut putih mulai menghiasi kepalanya, betapa kerut merut mulai terpahat di wajahnya.
Orang inilah yang tiap hari bekerja keras untuk kesejahteraan kita, anak-anaknya.
Orang inilah, rela melakukan apa saja
asal perut kita kenyang dan pendidikan kita lancar.

Sekarang, beralihlah.
Lihatlah ibu anda. Hmm...kulitnya mulai
keriput dan tangan yang dulu halus membelai- belai tubuh bayi kita itu kini kasar karena tempaan hidup yang keras. Orang inilah yang tiap hari mengurus kebutuhan kita.
Orang inilah yang paling rajin mengingatkan dan mengomeli kita semata-mata karena rasa kasih dan sayang, dan sayangnya, itu sering kita salah artikan.Cobalah menatap wajah orang-orang tercinta itu...

Ayah, Ibu, Suami, Istri, Kakak, Adik, Anak, Sahabat,
Semuanya...

Rasakanlah sensasi yang timbul sesudahnya.
Rasakanlah energi cinta yang mengalir pelan-pelan saat menatap wajah lugu yang terlelap itu.
Rasakanlah getaran cinta yang mengalir deras ketika mengingat betapa
banyaknya pengorbanan yang telah dilakukan orang-orang itu untuk kebahagiaan Anda.
Pengorbanan yang kadang tertutupi oleh kesalahpahaman kecil yang entah kenapa selau saja nampak besar.

Secara ajaib Tuhan mengatur agar pengorbanan itu bisa tampak lagi melalui wajah-wajah jujur mereka saat sedang tidur. Pengorbanan yang kadang melelahkan namun enggan mereka ungkapkan.
Dan ekspresi wajah ketika tidur pun mengungkap segalanya.
Tanpa kata, tanpa suara dia berkata... "betapa lelahnya aku hari ini".
Dan penyebab lelah itu? Untuk siapa dia berlelah-lelah? Tak lain adalah kita.

Suami yang bekerja keras mencari nafkah, istri yang bekerja keras mengurus dan mendidik anak, juga rumah. Kakak, adik, anak, dan sahabat yang telah melewatkan
hari-hari suka dan duka bersama kita.
Resapilah kenangan-kenangan manis dan pahit yang pernah terjadi dengan menatap wajah-wajah mereka.
Rasakanlah betapa kebahagiaan dan keharuan seketika membuncah jika mengingat itu semua.

Bayangkanlah apa yang akan terjadi jika esok hari mereka "orang-orang terkasih itu" tak lagi membuka matanya,
selamanya ...


semoga cerita ini akan menjadi sedikit saja cerita yang bisa membuat temen-temen menyadari “sesuatu yang mungkin saja hilang dari hidup kita” selama ini .

“It’s true
That we don’t know what we’ve got until we lose it
But . . It’s also true
That we don’t know what we’ve been missing until it arrives

Dream what you want to dream
Go where you want to go
Be what you want to be
Because ,
You only have only one life and one chance to do all the things you want to do . .

Always put your self in other shoes
If you feel it hurt you , it probably hurts the other person too
The happiest people don’t necessarilly have the best of everything
They just make the most of everything that comes along their way

When you were born
You were crying and everyone around you was smiling
Live your life
So when you die
You are the one who’s smiling
And everyone around you is crying”


malang , 4 September 2008

renungan tentang usia kita

Posted: 29 August 2008 by ranii mahardika in Labels:
1

Di awal zaman, Tuhan menciptakan seekor sapi. Tuhan berkata kepada sang sapi , “Hari ini kuciptakan engkau. Sebagai sapi, kutetapkan umurmu sekitar 50 tahun. “
Sang sapi keberatan. “Hidupku akan sangat berat selama 50 tahun . kiranya 20 tahun saja cukuplah buatku . kukembalikan kepadaMu yang 30 tahun.”
Maka setujulah Tuhan.

Di hari kedua Tuhan menciptakan Monyet .
“Hai Monyet , hiburlah manusia. Aku berikan kau umur 20 tahun!” Sang monyet menjawab, “What!? Menghibur mereka dan membuat mereka tertawa ? 10 tahun cukuplah. Kukembalikan 10 tahun padaMu. “ Maka setujulah Tuhan.

Di hari ketiga Tuhan menciptakan Anjing .
“Apa yang harus kau lakukan adalah menjaga pintu rumah majikanmu. Setiap orang mendekat , kau harus menggonggongnya . untuk itu kuberikan hidupmu selama 20 tahun .”
Sang anjing menolak, “Menjaga pintu sepanjang hari selama 20 tahun? No way!! Kukembalikan 10 tahun kepadaMu!” Maka setujulah Tuhan.

Di hari keempat , Tuhan menciptakan manusia . sadba Tuhan , “Tugasmu adalah makan, tidur, dan bersenang-senang. Inilah kehidupan. Kau akan sangat menikmatinya. Akan kuberikan engkau umur sepanjang 25 tahun!”
Sang manusia keberatan, “Menikmati kehidupan selama 25 tahun? Itu terlalu pendek, Tuhan!”


Let’s make a deal !!

“Karena sapi mengembalikan umurnya 30 tahun, monyet 10 tahun dan anjing 10 tahun , berikanlah semuanya itu kepadaku. Semua itu akan menambah masa hidupku menjadi 75 tahun. Setuju??”
Maka setujulah Tuhan.

AKIBATNYA…………………..

Pada 25 tahun pertama kehidupan sebagai manusia dijalankan , kita makan , tidur dan bersenang-senang.
30 tahun berikutnya menjalankan kehidupan layaknya seekor sapi , kita harus bekerja keras sepanjang hari untuk menopang kehidupan keluarga kita.
10 tahun kemudian, kita menghibur dan membuat cucu kita tertawa dengan berperan sebagai monyet yang menghibur.
Dan 10 tahun berikutnya, kita tinggal di rumah, duduk di depan pintu dan menggonggong kepada orang yang lewat.


Nah, fabel ini sebenarnya menyindir kita .
Filosopinya tinggi dalam kisah yang unik. Karena dikisahkan , kita ternyata tidak lebih bersyukur daripada hewan.

Mawaslah lebih jauh kepada diri kita sendiri . . .