Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

pembelajaran sebagai seorang umat (Hindu).

Posted: 16 January 2010 by ranii mahardika in Labels: , , , , , ,
0

saia hanya seorang umat manusia yang sudah disandangkan sebuah iman (baca : agama) sejak lahir oleh kedua orang tua saia. bahkan jauh ketika ibu saia tau bahwa beliau mengandung, iman itu suda menjadi milik saia. begitu lahir, semua bayi pasti ga bisa memilih akan memeluk iman yang mana. seorang bayi merah hanya bisa bicara melalui tangisannya, yang oleh orang-orang di sekitarnya justru menghadirkan raut bahagia. dan karenanya, agama seorang bayi sudah ditentukan oleh keberadaan orang tuanya.
saia beragama Hindu. dan sejak kecil, ajaran Hindu dan budayanya begitu lekat dalam benak saia. saia diajarkan untuk melakukan Tri Kaya Parisudha.

tentang 22 Desember

Posted: 22 December 2009 by ranii mahardika in Labels: ,
0

semua orang juga sudaa tau kalo tanggal 22 Desember itu merupakan Hari Ibu. sejak pagi saia sudah mendapati update status temen-temen di facebook dan twitter, penuh dengan ucapan selamat kepada seluruh kaum ibu yang ada di dunia. dan sepanjang hari ini sudah pasti akan dipenuhi dengan status sejenis itu. saia sendiri hanya menuliskan ucapan “selamat hari ibu” sekali di akun twitter saia. sedangkan untuk facebook, saia tidak meng-update nya dengan ucapan atau kata sejenis. hihihihi…

parahnya, saia menuliskan begini di akun twitter saia

“status sebagian besar orang2 di FB en twitter tentang Hari Ibu. huh. meski sekarang tgl22, emangnya ga ada tema lainnya yak?”

dan saia menuai banyak protes dari ungkapan saia ini.. berasa seperti Luna Maya aja.. banyak followers yg menghujat status saia itu. yang mengatakan bahwa saia tidak hormat, cinta atau sayang ibu saia. sampai ada juga yang bilang kalau saia ini anak durhaka. hahaha.. saia hanya tertawa aja membaca setiap respon yang ditujukan kepada saia.

tapi saia juga jadi mengutip salah satu status teman saia di facebook. dia bilang begini,

“Tdk mengucapkan slmt hari ibu bkn berarti tdk menghormati ibu kan??”

hmm.. jika memang tanggal 22 Desember yang kata orang itu adalah hari Ibu, dan yang kata orang-orang itu identik dengan mengucapkan selamat atau mengungkapkan kasih sayang kita sebagai anak terhadap sang Ibu. dan jika ada seseorang yang apatis terhadap perayaan ini (seperti saia contohnya) itu berarti saia tidak sayang, tidak hormat, tidak cinta terhadap ibu saia. begitu dunk?? padahal kan dalam setahun kita punya 365 hari. kita jadi punya banyak hari untuk dijadikan hari ibu. bahkan kita jadi punya duabelas kali tanggal 22. trus kenapa hanya di hari yang bertandakan 22 Desember sajaa, kita harus gembar-gembor mengungkapkan betapa kita mencintai ibu kita?? hari yang lainnya kemana?

buat saia, ucapan tidak terlalu penting. buat saia, cara mencintai ibu saia –bahkan orang-orang di sekitar saia, tidak perlu dipublikasikan. jadi saia merasa tidak perlu ikut-ikutan arus dengan menuliskan hal yang sama sepanjang hari. saia juga merasa tidak perlu berkata cinta kepada orang-orang yang ssaia cinta, di media seperti ini. (kecuali memang saia rasa perlu pada suatu kesempatan yang benar-benar penting). this is my life, dude. whatever i want to do is not your business. whether i love my mom or not.. that’s none of your business.

singkat saja..

Posted: 30 October 2009 by ranii mahardika in Labels:
2

barusan abis menonton cuplikan berita di televisi yang lagi membahas tentang maraknya aliran yang dianggap sesat di Indonesia, khususnya di Jawa Timur. yang ingin saia tulis sekarang ini, singkat ajaa..

memangnyaa urusan beragama ini kini diurus oleh orang lain iaa?? maksud saia, selama engga mengganggu kita, apakah kita punya hak untuk melakukan sesuatu yang disebut dengan "menghakimi"? bingung... apakah kita perna melihat pada diri kita sendiri, apakah kita telah benar-benar melakukan perintah agama yang kita anut? sudahkah kitaa beragama secara taat??

ga usahlah menghakimi orang lain, karena urusan hakim menghakimi adalah urusan Tuhan. bukan urusan kita sama sekali, kecuali anda adalah seorang Hakim. hmm

dewasa = bijaksana..

Posted: 01 June 2009 by ranii mahardika in Labels:
0

ada ga yang bisa bantu saia mengertikan kata "dewasa"? saia masih saja bingung, apakah menjadi dewasa berarti sama dengan menjadi bijaksana atau menjadi penyabar..
jika memang sama, kenapa kita ga menggunakan hanya satu istilah saja untuk menyebutkan makna kata dewasa ini??

bukannya gimana, kerap kita dengar istilah : Menjadi Tua Itu Pasti, Menjadi Dewasa Itu Pilihan!
tapi, apakah ada seseorang yang bisa mengartikan pengertian dewasa itu sendiri? bijaksana, mampu berpikir jernih, atau apaa? Jika menjadi bijaksana berarti mampu mengolah segala macam informasi dan menanggapinya dengan baik, kita tidak perlu menjadi dewasa kan? anak kecil pun bisa melakukan itu. bahkan anak kecil mempunyai kemampuan untuk berpikir lebih jernih dari orang yang merasa tua. anak kecil dengan kepolosan dan kesederhanaan pola pikirnya kadang membuat orang tua kita takjub. membuat kita bertanyatanya, mengapa kita tidak bisa berpikir sejernih dan sesederhana mereka?

well, mungkin pemikiran seperti ini hanya saia saja yang mengungkapkan.. mungkin hanya saia yang beranggapan bahwa anak kecil justru bisa berpikir
dengan lebih baik. jelas hanya saia yang berpikiran begini. tapi, ga ada salahnya kan kita bertanya?? karena, walaupun anak kecil tidaklah dewasa, tetaplah kesederhanaan mereka adalah sebuah inspirasi, terutama bagi saia. masalah anak kecil sebenarnya cukuplah simpel, sangat sederhana. namun, orang dewasalah yang membuatnya menjadi besar. seandainya orang dewasa benarbenar dewasa, pastilah segala hal di dunia ini akan menjadi lebih baik.

hanya saja, jelas kita perlu cari tau dulu.. apa sebenarnya arti dan makna dewasa itu??

menggiati Bilangan Fu

Posted: 29 May 2009 by ranii mahardika in Labels: , ,
1

sebenarnya saia lupa, kapan tepatnya saia menjadi penggemar buku. buku cerita, buku novel, buku motivasi, buku fiksi ilmiah. bermacammacam buku lah. bermacam buku yang ga bisa juga saia patok sebuah `genre` tertentunya untuk saia jadikan bacaan `paling favorit`. yepp, saia juga ga tau, jenis buku apa yang menjadi kesukaan saia! kadangkadang, mood mendukung saia untuk melahap habis buku agama, filsafat, atau hukum. dan di lain mood, buku bacaan ringan pun menjadi favorit. saia jelas lupa juga, buku apa yang pertama kali saia baca sampai saia menemukan kesadaran `menghobikan` membaca sebagai pengisi waktu. entah yang mana yang lebih dulu, bukubuku Kahlil Gibran atau berbagai jenis Chicken Soup yang jadi bacaan pertama saia. tapi, saia ga ingin membahas itu saat ini.

buku ini, jelas bukan buku yang baru saja diterbitkan. buku ini terbit Juni 2008, buah tangan penulis Ayu Utami. Bilangan Fu namanya.. saia juga tidak akan memberikan sinopsis dari buku ini, karena saia bukan peresensi yang baik. saia hanya ingin bercerita tentang pengalaman saia dengan buku ini. saia menyebutnya BUKU, sedangkan penulisnya sendiri menyebutnya NOVEL. dan saia juga ga ambil pusing dengan penyebutan saia ini. saia kagum dengan buku ini. di awal kemunculan buku ini, saia sudah sangat berniat untuk membeli dan membacanya. namun apa dikata, baru sekarang buku ini bisa saia `habiskan!`

penulisnya editor menyebutnya "pengarang" memberi nafas "spiritualisme kritis" terhadap karyanya ini. ia mengolah halhal yang kita sebut spiritual, mistis, keagamaan dengan apik dan tanpa sadar membuat kita berpikir bahwa semua itu menjadi sangat logis. dalam bukunya, si penulis menyebutkan tentang agama bumi dan agama langit. halaman 452. agama bumi adalah ajaran yang secara sistematis memelihara alam, sedang agama langit jelaslah tentang hubungan umat dengan Tuhannya yang ada di langit! selain itu, secara halus pula penulisnya menjelaskan konsep Monoteisme yang kita anut. kita tahu bahwa monoteisme berarti hanya ada satu Tuhan. yang dengan gamblang dipaparkan bahwa artinya bahwa kita hanya menyembah satu
Tuhan, yang jika dikaji lebih dalam, Tuhan yang satu itu tiada tandingannya.. apalagi ditandingi oleh aliran kepercayaan, yang kita akui jumlahnya sangat banyak di Indonesia ini. jika begitu adanya, konsep ini memberi arti bahwa monoteisme sulit bertoleransi terhadap perbedaan.

paham ini dikisahkan dikawal oleh tokoh bernama Kupukupu yang di kemudian hari lebih dikenal dengan Farisi, yang mempunyai saudara lakilaki yang ternyata memiliki pandangan tentang ketuhanan yang jauh berbeda dengannya. namanya Parang Jati. lelaki yang memiliki keistimewaan pada fisiknya, namun masyarakat justru malah menganggapnya "cacat". ialah yang memunculkan ideologi "spiritual kritis" yang tadi sudah saia sebut. dan ia diceritakan berkawan sangat dekat dengan sepasang kekasih Yuda dan Marja. Yuda, si tokoh "aku" dalam novel ini adalah seorang pemanjat tebing dan petaruh yang menjuluki dirinya sendiri "si iblis", dan Marja adalah hanya seorang "manusia" yang bersemangat. si "aku" memiliki pandangan yang 180 derajat berbeda dengan Jati, "si malaikat" yang kemudian mendorong alur cerita pada buku ini mengerucut pada bilangan Fu, yaitu sebuah bilangan yang mempunyai properti nol dan satu sekaligus.

1 : @‍ = 1 x @ = 1, dan @ bukan 1

ps.. @ itu sebenarnya berbentuk seperti gambar obat nyamuk bakar yang melingkar, bukan @ yang sesungguhnya..

nah, buat saia.. buku ini, selain mengusung tema spiritualisme yang kental, juga mengandung ajakan kepada kita untuk lebih mencintai bumi. karena bumi adalah tempat kita hidup sekarang. dan apa yang bakal terjadi apabila kita tidak memelihara bumi kita ini dengan baik?? tentu wacana Global Warming sekarang ini bagai makanan kita seharihari toh? lalu, apakah hal itu hanya akan menjadi sekedar wacana saja? agama bumi yang dikemukakan oleh Ayu Utami melalui Parang Jati, bukanlah jenis aliran kepercayaan seperti yang sekarang banyak berkembang di Indonesia. bukan sebuah agama yang sekedar mengharuskan umatnya hanya menyembah Tuhan yang ada di kitab suci yang telah diwahyukan kepada mereka. tidak hanya itu, karena meskipun saia bukan Tuhan, saia yakin bahwa Tuhan akan menyentuh sisi humanis dan sosial kita, umatnya, dengan cara yang berbeda. dan kesadaran itu, melalui buku ini, digambarkan dengan lebih mudah.. cintai Tuhanmu, cintai pula bumimu. gunakan energi bumi secara wajar dan sebagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri, tidak mengeruk keuntungan dari bumi dengan memperkosanya yang dikuliti oleh modernitas.

ahh, sudah saia bilang, saia bukan peresensi yang baik. mungkin sebaiknya tementemen baca sendiri aja bukunyaa, biar mengerti dengan apa yang barusan
saia ceritakan. hehehehe

poin berhadiah

Posted: 13 May 2009 by ranii mahardika in Labels: ,
2

kita tentu sudah ga asing dengan adanya program ini. poin berhadiah. jika kita berbelanja di toko tertentu, atau produkproduk dalam satu brand tertentu, dalam jumlah tertentu, kemudian kita mendapatkan poin yang nantinya bisa ditukarkan dengan hadiah atau produk tertentu pula. ga cuma itu, membeli pulsa pun kini telah pula menghasilkan poinpoin yang bisa ditukarkan. program ini biasanya memiliki jangka waktu tertentu, dan biasanya juga, poinpoin yang tidak diitukarkan selama masa berlakunya, akan hangus dan tidak bisa ditukarkan lagi setelah lewat masa berlakunya.

dalam setiap fungsi kehidupan, program seperti ini telah sangat akrab sekali bagi kita. belanja di supermarket, menabung di bank, membeli pulsa, fitnes atau berbagai jenis keanggotaan lainnya, dan lainlain. dan tentunya ga sedikit juga yang tertarik mengikuti program ini, dengan harapan bisa mendapatkan hadiahhadiah tertentu. itungitung menggunakan produknya, dan beradu keberuntungan mendapatkan hadiah yang menarik, mungkin bisa dikatakan begitu.

ibu saia, adalah salah satu dari tidak sedikit orang yang sangat tertarik dengan programprogram macam begini. mulai dari poin hasil pembelian pulsa, paket perawatan wajah di sebuah pusat kecantikan, sampai berbelanja dengan kelipatan tertentu di supermarket sebuah pusat perbelanjaan di Denpasar. yang terakhir saia sebut, adalah program yang paling ibu gemari. jelas saja, karena kami sekeluarga hampir setiap minggu berbelanja disana. tidak seperti keluarga lain yang pada umumnya berbelanja keperluan rumah tangga setiap bulan, ibu saia lebih suka berbelanja setiap minggu. kata ibu sih, supaya beliau bisa lebih sering berjalanjalan.

well, apapun alasannya, hari ini saia mendapat pengalaman terkait dengan program poin berhadiah itu. dan pengalaman ini tentunya ada karena "keterikatan" ibu saia dengan program poin berhadiah ini di supermarket yang sekarang sedang terkena kasus penggelapan pajak ini.

jadi, hari ini si ibu minta diantarkan berbelanja mingguan. saat berangkat, ibu uda berancangancang akan menghabiskan sejumlah sekian rupiah untuk menggenapkan jumlah poin yang telah dimilikinya. sejak minggu lalu, ibu sudah menentukan, "hadiah" mana yang ingin beliau tukarkan dengan poinpoin hasil berbelanjanya selama periode kali ini. kebetulan, akhir bulan ini adalah masamasa terakhir untuk penukaran poin di perode berjalan. dan akhirnya, setelah berputarputar berkeliling dan berbelanja keperluan untuk minggu ini.. si ibu langsung menarik troli yang penuh barang belanjaan, menuju ke counter penukaran hadiah. dan, setelah melihatlihat lagi barangbarang hadiahnya, si ibu
histeris.. karena ternyata poinnya masih kurang sebanyak empat poin, untuk sebuah barang yang diincarnya!

akhirnya, ibu menyuruh meminta saia untuk berbelanja apaa sajaa sejumlah dua puluh ribu rupiah untuk mendapatkan empat poin yang tersisa.
apaa saja.. yang akhirnya saia belikan sebatang besar coklat kesukaan saia .

trus, apa inti dari tulisan ini?

saia pribadi sih ga punya kepentingan apapun terhadap programprogram sejenis ini. hanya saja, saia jadi tersadar bahwa sekarang ini terdapat banyak sekali cara untuk memasarkan suatu produk atau jasa. jika dulu, *bahkan sampai sekarang pun masih berlaku* sering kita mendengar promo, Beli Satu Gratis Satu, Buy One Get One, maka yang sekarang saia tulis ini adalah sebuah bentuk pengembangan sistem pemasaran yang itu. saia jadi semakin tertantang untuk melakukan inovasiinovasi yang lebih kreatif dalam bidang kehidupan yang sedang saia geluti. dan mungkin, saia jadi harus lebih jeli melihat peluang. yapp! benar sekali, pengembangan dari strategi ini adalah sebuah pengamatan yang jeli dari sistem yang sudah ada. yayaya.. sebuah pembelajaran yang cukup berharga di masamasa seperti ini.

ketika kuterbangun dari tidur

Posted: 09 May 2009 by ranii mahardika in Labels: ,
1

pagi ini aku bangun agak siang. dan seluruh penghuni rumah, tentunya sudah punya aktivitasnya masing-masing. si adik mengabari bahwa dia akan pergi ke rumah salah satu saudara, untuk menghadiri upacara melaspas rumah barunya di bilangan Renon. huh. aku tertegun cukup lama. rumah baru, yepp rumah baru. dan ga tau kenapa, ada rasa iri yang terbersit di hatiku, dan rasanya itu sangat menyayat.

sempurna sekali keluarga mereka. harmonis, hidup berkecukupan, punya usaha keluarga yang bisa dikerjakan turun temurun, bahagia, mampu me-manage konflik keluarga dengan cukup apik. dan sekarang, satu rumah lagi di kompleks perumahan menengah ke atas! intinya, mereka sempurna.

apa yang salah dengan keluargaku? ayahku punya jabatan yang cukup baik di jajaran pemerintahan lingkungan tempat tinggal kami. kami hidup bercukupan, cukup untuk seringkali berkaraoke sekeluarga berjam-jam dan kemudian menghabiskan waktu makan malam di restoran terkenal. tapi, nyatanya.. kami bahkan ga bisa melakukan itu bersama. kalaupun bisa, rasanya bukan "bahagia". namun "terpaksa". dan jika memang kami mampu, rumah kami bahkan tidak sebaik orang-orang yang tinggal di lingkungan kami. masalah konflik, itu bukan rahasia umum jika memang ada konflik besar dalam kehidupan kedua orangtuaku, yang dampaknya menghujamku dan adikku. keluarga ku sama sekali tidak sempurna!

lalu kuingat lagi tayangan-tayangan televisi di stasiun-stasiun televisi swasta pada jaman sekarang. hatiku pun tak terperi melihat kehidupan *di bawah* sana. jangankan punya lebih dari satu rumah, untuk tempat tinggal mereka sehari-hari pun.. tak layak pula tempat itu disebut rumah. untuk makan? setelah bekerja kasar seharian penuhpun, makanan mereka ga lebih dari tahu tempe ikan pindang. meski masi layak, mereka sekeluarga makan dalam satu piring saja.

ada juga anak-anak jalanan lainnya, seperti yang pernah saia tonton di televisi juga. yang mereka dipekerjakan oleh sekumpulan orang yang mengambil keuntungan dari anak-anak itu. anak-anak jalanan itu dijadikan peminta-minta, jadi pemulung, bekerja sebagai penyapu jalanan, pengamen, penyemir sepatu, dan tidak sedikit dari mereka yang didandani menjadi sangat kumuh, dan ada juga yang sengaja dijadikan cacat.

kehidupan seperti apa sebenarnya yang aku hadapi? di sisi lain, aku sangat iri terhadap mereka-mereka yang bisa melakukan sesuatu yang seharusnyapun bisa aku lakukan. namun disisi lain, aku tau bahwa ada orang-orang lain yang bahkan masih berharap untuk bermimpi melakukan sesuatu!

ketika aku terbangun dari tidur, aku mendapati lagilagi pertengkaran kedua orangtuaku, di balik rencana si adik untuk memenuhi undangan selamatan rumah baru sodaraku. dan di saat itu pula, tayangan televisi beberapa waktu yang lalu itu terngiang-ngiang di otakku! ohh~ that's perfect to kill me!

tanpa helm, dengan "tutup kepala"

Posted: 07 May 2009 by ranii mahardika in Labels:
0

well, kali ini sudah yang kesekian kalinya saia mengalami peristiwa ini. hmm~ mungkini bagi kebanyakan orang hal ini juga bukan merupakan perkara yang besar juga sihh. hanya saia dan sebagian hatii saia aja yang seringkali menggerutu dan kesal acapkali melihat hal ini terjadi.

entah hal ini berawal sejak kapan. entah kapan "kebiasaan buruk" ini dimulai. namun yang pasti, sekarang ini sudah sangat sering sekalii saia menyaksikan sendiri para pengendara sepeda motor yang tidak menggunakan helm. terutamanya mereka-mereka yang mengenakan "penutup kepala". hmmm~ jujur saia jadi bingung bagaimana saia harus mendeskripsikan setiap kalimat saia yang ingin sekali ucapkan dengan gamblang, namun tanpa harus "mendiskreditkan" suatu kelompok masyarakat tertentu.

ok, jelas saja saia katakan langsung iia. jadii, saia sering "menemukan" kasus dimana temen-temen yang menggunakan kerudung ataupun peci, tidak menggunakan helm saat berkendara di jalanan di Bali. lazimnnya, orang-orang tidak menggunakan helm ketika mereka menempuh perjalanan yang sangat dekat, atau yang berkisar di lingkungan perumahanan yang jauh dari jalan raya. namun, begitu seringnya saia mendapati temen-temen ini *lebih sering yang saia jumpai adalahh kaum ibu, dengan membonceng anaknya yang juga tidak menggunakan helm. dan juga sekarang sudah mulai agak banyak pula anak-anak remaja yang menirukan sikap ini..* mereka melakukan "kebiasaan" ini bahkan ketika mereka melintas antarkota, atau saat melewati jalanan besar yang padat kendaraan.

pernah suatu ketika, beberapa waktu yang lalu ketika saia mengunjungi Tanah Lot yang jelas-jelas letaknya diluar kota Denpasar.. saia beriringan dengan sekelompok anak muda beberapa orang perempuan yang menggunakan kerudung yang mengendarai sepeda motor juga, namun mereka ini tidak menggunakan helm sebagai pelindung kepala mereka. mulai dari jalanan Gatot Subroto sampai Tanah Lot.., bahkan ketika pulangnya saia masih ingin melihat matahari terbenam di bilangan Kuta, mereka pun memiliki niatan yang sama. dan mereka, sekali lagi, pergi ke Kuta dari Tanah Lot tanpa helm!

memang sih di Bali terdapat peraturan yang tidak tertulis, bahwa untuk kegiatan beragama, warga Bali diperkenankan untuk tidak menggunakan helm ketika berkendara dengan sepeda motor. awalnya hal ini mungkin dimaksudkan untuk mempermudah aturan berbusana yang telah ditetapkan untuk melakukan kegiatan persembahyangan atau kegiatan adat lainnya, karena memang para wanita di Bali menggunakan *sanggul* untuk bersembayang, dan para prianya mengenakan *udeng*

namun ketika aturan tersebut malah dimanfaatkan untuk kepentingan yang lain, tentunya hal itu menjadi tanggung jawab dari masing-masing individu. misalnya, ketika aturan tersebut disalahgunakan dengan mengenakan *kamen* dan selendang seadanya, polisi bisa melakukan tindakakan terhadap hal ini. jadi memang kebijakan ini bukanlah sebuah kebijakan "mentah" yang mengijinkan setiap warga yang *mekamen* bebas tidak menggunakan helm di kala mereka bersepeda motor.

dan sekarang apa yang terjadi??

banyak warga pendatang yang mampu membeli motor, namun mungkin tidak punya cukup banyak simpanan untk membeli helm, malah dengan bebas berkeliaran di jalanan, hanya dengan alasan yang tadi sudah saia jelaskan. alasannya jelas, mereka sedang menggunakan busana persembayangan mereka! mereka sedang berkepentingan dengan kegiatan keagamaan mereka, dan mereka tentunya berhak melakukan itu karena adanya aturan tidak tertulis yang berlaku hanya di Pulau Bali ini. saia bingung dehh, kenapa aturan itu harus disalahgunakan. padahal kan helm adalah salah satu bentuk pengamanan terhadap pengendara kendaraan roda dua.

saia sendiri sebenarnya memang ga punya hak apa-apa untuk mengatur kejadian ini. saia tidak berhak menyalahkan temen-temen ituu karena hal-hal yang telah dan masih akan mereka lakukan itu. saia bukan polisi, dan bahkan jikapun saia polisi, belum tentu saia punya kewenangan untuk "menegur" mereka. namun, saia secara pribadi hanya ingin memberi himbauan aja, supaya kita pribadi agar lebih melihat secara lebih luas. agar kita memahami untuk apa aturan dibentuk, dan pentingnya menjaga keselamatan diri, bahkan dengan cara yang sangat mudah!

konvoi yang ga pernah tertib

Posted: 04 April 2009 by ranii mahardika in Labels:
0

sekarang saia berada di sebuah warung makan favorit saia di bilangan Sigura-gura, MaLang.. senang sekali bisa berada disini lagi setelah hampir seminggu saia tidak kemari :) nah, tadi itu kan saia berangkat dari kost saia di bilangan KaLpataru well, yang ngerti ini semua cuman mereka yang tau Malang sih.. hhehe bagi yang ga tau, anggap tau aja deh :p

sepanjang jalan menuju kemari, saia bertemu dengan banyak sekali rombongan kendaraan bermotor yagn sedang berkonvoi (baca : kampanye,red)saia sih ga akan menuliskan parpol mana yang sedang melakukan konvoi ini, karena yang ingin saia ungkapkan disini bukan mengenai parpolnya, melainkan tentang pelaksanaan teknis kegiatan berkonvoi-nya.

ga sekali dua kali ini saia mendapati rombongan konvoi di jalanan. mulai dari konvoi untuk kampanye, konvoi perkumpulan atau club-club tertentu, konvoi untuk launching produk atau apalahh, atau konvoi dalam rangka memperingati sebuah perayaan.. hampir di setiap konvoi yang saia temukan tersebut, kebanyakan memiliki kesamaan-kesamaan tertentu. sebut saja, ramai! jelasLah! berbondong-bondong, jelas pula lahh. lainnya, hampir kebanyakan dari kegiatan ini, mengandung unsur pelanggaran lalu lintas. percaya deh sama saia untuk hal yang satu ini.

memang sih ga semua konvoi begitu, saia toh bilangnya : kebanyakan. kebanyakan dari mereka, banyak yang tidak menggunakan helm, banyak yang mengangkut lebih dari dua orang pada satu sepeda motor, banyak yang berdiri pada sadel sepeda motor untuk mengibarkan bendera atau umbul-umbul atau sejenisnya. yang paling mudah kita temukan sih jenis pelanggaran yang pertama, ga pake helm.

iia toh?

saia cuman heran aja dengan hal-hal seperti ini. memang tampak sepele bagi sebagian orang, namun hal ini cukup berdampak besar lhoo~ ga mau kan kita jadi korban kecelakaan lalu lintas, hanya karena tidak menggunakan heLm?

saia pribadi sih tidak menyalahkan siapa-siapa dengan adanya kenyataan ini. saia hanya menyayangkan saja, bahwa ternyata masing-masing pihak kurang menyadari arti besar keselamatan diri sendiri. coba aja, setiap orang yang melakukan konvoi itu membekali diri dengan perlengkapan yang pantas. trus, mereka bisa melakukannya dengan tertib sepanjang perjalanan, mematuhi rambu-rambu walau saia sangat yakin bahwa telah ada petugas dari kepolisian yang mengawal mereka, dan teratur dalam melakukan manuver-manuver tertentu. pasti hal itu akan terlihat lebih "indah" dan orang-orang atau pengguna jalan lain yang melihatnya juga akan merasa senang dan simpati dengan itu.

selain itu, kegiatan konvoi ini juga pasti ppunya panitia atau koordinator yang mengatur seluruh rangkaian kegiatan tersebut. seharusnya, pihak panitia juga mempunyai kesadaran diri untuk mengajak temen-temennya menjadi tertib di jalanan. selain itu, mereka juga sebaiknya menerapkan sistem sanksi untuk setiap pelanggaran yng dibuat. sanksi yang diterapkan tentunya juga akan meminimalisir angka pelanggaran lalu lintas dan urusan kepolisian toh. hal itu menjadi sebuah hal yang baik juga untuk pembentukan "citra" atau "nama baik" dari organisasi yang diwakilkan oleh mereka-mereka yang melakukan konvoi.

cukup baik juga kan alasan saia? bagaimana menurut temen-temen?

(sedikit opini tentang) goLput

Posted: 25 March 2009 by ranii mahardika in Labels: , ,
3

beLakangan ini saia mendapati banyak sekaLi pemberitaan media mengenai PemiLu dan segaLa tetek bengeknya. apaLagi sekarang ini adaLah masa kampanye pemiLu. Hmmm~ dari sekian banyak jenis maraknya pemberitaan tersebut, belakangan ini saia mendengar isu mengenai GOLPUT di sekitaran saia. muLai dari teman, lingkungan kampus, lingkungan kerja, kLien-kLien juga banyak yang menjadikan si GoLput ini sebagai perbincangan di waktu makan siang.

Dunia maya pun ikut-ikutan membicarakan si GOLPUT. seperti juka saia OL di YM, pLurk bahkan fesbuk!! Yang paLing gress, perbiincangan terakhir saia dengan seorang dosen saia.. coba Lihat disini gpp kok :) semoga link-nya berhasil iiia, hhehe

Mungkin bagi sebagian orang, GOLPUT memang merupakan pilihan yang paLing baik, yang paLing tepat, mengingat mereka menganggap bahwa mereka adalah kaum yang tidak terwakiLkan. ga sedikit puLa yang mengatai para caLon wakil rakyat kita adalah orang-orang yang ga pantas menjadi caLon legislatif yang terhormat, dan karenanya mereka (kaum GOLPUT,red) memilih untuk tidak menggunakan hak pilihnya dan kewajiban mereka sebagai warga negara itu.

Saia cuman heran, herannya begini,, kalao mereka menganggap para caLeg sekarang ini tidak pantas mencaLonkan diri. Lalu siapa yang pantas? Trus, jika mereka menganggap bahwa para caLeg tersebut hanya mengumbar-umbar janji tanpa ada reaLisasi, Lalu tindakan nyata apa yang bisa diLakukan oLeh para caLeg untuk meyakinkan?? Mereka kan hanya caLon. Saia uLang, mereka hanya caLon atau, ada lagi… kata para GOLPUT ini, mereka tidak mengenal satupun caLon wakil rakyat yang sedang bertarung berebut kursi panas di badan legislatif. hoii, bukankah sekarang ini masa kampanye pemiluu, Bung!! Masa sosialisasi.. masa perkenalan, masa “menjual diri” mereka, para calon wakil rakyat. apa susahnya sihh mengikuti sedikit sosialisasi para caleg itu? Ga cukup waktu?? Untuk “menghujat” caleg-caleg tersebut aja waktunya banyak.. kok ia untuk menyimak visi misi yang telah disiapkan itu aja ga sempat.

Disini, saia hanya ingin mengajak temen2 untuk menggunakan hak pilih yang telah diiberikan oleh negara sebagai penyelenggara kegiatan negara tersebut, dengan baik dan bijak. Gunakan dengan baik karena, negara demokrasi yang kita anut teLah memberikan kita kebebasan untuk bersuara, bahkan hal tersebut jugaa diatur dalam UUD negara kita. Jangan katakan bahwa tidak memilik pun merupakan hak temen-temen, karena untuk tidak memilik tidak disebutkan sedikitpun dalam UU manapun! bahkan temen-temen tidak akan menemukan istiLahh Hak Tidak Pilih atau Hak Tidak Suara dimana-mana.

Dan, gunakan dengan bijak supaya kita benar-benar memilih mereka-mereka yang berkualitas, yang layak mendapatkan uang pembayaran pajak kita sebagai bayaran mereka.. yang akan meneruskan segala aspirasi kita, rakyat dan warga negara Indonesia. Jangan skeptik dengan mengatakan temen-temen ga mengenaL caleg-caleg yang sedang bertarung. Temen-temen kan bisa memanfaatkan media telekomunikasi massa, ada TV, radio, internet, telepon genggam.. di jalanan juga banyak terpajang balihoo, spanduk, umbul-umbul, selebaran, yang secara singkat menyampaikan visi/misi mereka. Tidak usahLah menghadiri kampanye yang melibatkan massa dalam jumlah besar, karena memang hal-hal itu tidak efektif sebagai upaya penyampaian pesan. jadiLah bijak dengan menyaring segala informasi, dan dengan media yang tepat pula. Jadilah bijak dengan menggunakan hak pilih kita, dan jadilah bijak dengan turut serta memulai sebuah perubahan di negara Republik Indonesia kita ini. Meskipun kecil, suara kita mampu mengubah segalanya..

Jangan Tanyakan Apa Yang Negara Berikan Kepadamu.. Tapi Tanyakan Apa Yang Bisa Engkau Berikan Kepada Negara(mu)

Reality Show , Bentuk Pembodohan Masyarakat ??

Posted: 17 December 2008 by ranii mahardika in Labels: ,
3

Masih sering nonton televisi ?? atau jangan-jangan temen-temen adalah salah seorang penikmat televisi yang menghabiskan sisa waktunya *di luar aktivitas reguler yang biasa dilakukan lhooo* ?? hemmm~ apapun “status” temen-temen terhadap kegiatan ini , istilah Reality Show pastinya uda bukan menjadi barang baru lagi untuk kita . . .
jenis acara ini adalah jenis acara yang menggambarkan sebuah peristiwa yang sesungguhnya dan apa adanya yang terjadi pada saat kejadian . Konsepnya sih , tanpa rekayasa – tanpa skenario , alias bener-bener murni peristiwa yang terjadi saat itu pula . Contoh acaranya pun uda tentu ga asing lagi di telinga kita , mulai dari reality show tentang cinta *tembak-menembak , memata-matai orang terkasih , menguji orang terkasih , jodoh-menjodohkan , dan sebagainya* , atau tentang kehidupan pada umumnya *tinggal bersama para kaum menengah ke bawah , bagi-bagi uang atau perbaikan rumah , dan sejenisnya lah* sampai yang mengusung tema semacam audisi-audisian atau kuis-kuisan *si artis mencari pembantu , mempertemukan penggemar dengan idolanya , kontes pencarian bakat , atau macam-macam jenis lainnya* . . .

trus , apa maksud introduksiku di atas iia ? Padahal kan aku ga suka acara reality show seperti itu :p karena sekarang ini *menurutku* uda terjadi pergeseran praktis di dunia reality show ini . Maksudku , pada awal kemunculannya , reality show adalah murni sebuah program tayangan televisi yang menampilkan apa adanya sebuah peristiwa tertentu . Benar-benar apa adanya , tanpa rekayasa , apalagi skrip , naskah , skenario dan semacamnya . . . namun , semakin lama dan semakin banyaknya tayangan-tayangan semacam ini di hampir seluruh stasiun televisi ini menunjukkan “wajah” aslinya . Kenapa kubilang begitu ?

hhehehe , jadi hasil survei kecil2an yang pernah kulakukan ke beberapa teman telah menghasilkan sebuah kesimpulan bahwa acara reality show yang sedang marak di hampir seluruh stasiun televisi di Indonesia adalah sebuah rekayasa ynag dibuat-buat dengan tujuan akhir yaitu : pembodohan masyarakat. Disebut demikian (Pembodohan ,red) karena saat ini , konten atau isi dari tayangan-tayangan tersebut tidak mendidik , membohongi masyarakat dan tidak sesuai dengan norma-norma ya ng berlaku di masyarakat . “Masa masalah keluarga , yang seharusnya diketahui hanya oleh anggota keluarga yang bersangkutan sebagai pihak intern keluarga tersebut , bisa ditayangkan melalui media massa hingga bisa diketahui oleh seluruh masyarakat yang menonton acara tersebut.”

Well , jujur sajaa , aku bukan termasuk yang berasal dari kalangan “penikmat” , “penonton” maupun “anti reality show” , hanya saja , aku lumayan kaget juga melihat kanyataan bahwa reality show ini mendapat cukup perhatian dari kalangan-kalangan tertentu . pertanyaanku sekarang , gimana dengan temen-temen ??

kewajiban vs hak

Posted: 05 October 2008 by ranii mahardika in Labels: , , ,
3

“Kenapa iia orang-orang berlomba-lomba menjadi penguasa ?”

Aku bingung , kenapa orang-orang sangat terobsesi , berusaha sekuat tenaga bahkan sampai melakukan berbagai macam cara – daya dan upaya untuk menjadi penguasa ?? penguasa , atau pemimpin , atau pejabat atau apalah istilahnya pada bidangnya masing-masing . ada yang bilang karena banyak duid , ada yang bilang juga karena bisa melakukan apa saja dengan status tersebut , ada yang bilang supaya punya kuasa dan wewenang , ada yang butuh aksesnya *menjadi orang dengan status tersebut pasti memiliki “pintu” untuk masuk ke dalam bagian apapun* . ada pula yang berhati mulia , menginginkan sebuah perubahan yang baik dalam kepemimpinannya dengan status tinggi *jaadi kaum ini bisa memimpin banyak orang untuk menjadi “sesuatu yang lebih baik* .

Apapun alasannya , apakah orang-orang itu sadar bahwa menjadi penguasa , pemimpin , pejabat , atau apalahh itu namanya , bahwa di pundak mereka pula bertengger tanggung jawab dan kewajiban yang besar pula ? bukan hanya uang , fasilitas , kekuasaan , hak atau kejayaan aja yang mereka bawa dalam wujud mereka itu . kalo mereka merasa yakin dan mampu bahwa mereka layak mendapatkan segala “kesenangan” tersebut , seharusnya mereka siap pula melakukan kewajibannya ! jangan cuman mau enaknya aja .

Ambil contoh paling mudah : JABATAN KETUA KELAS . seorang ketua kelas tentunya mendapatkan “kemudahan” di berbagai hal , misalnya dia berhak menentukan siapa-siapa aja yang bisa menjadi wakil ketua kelas , jadi bendahara maupun sekretaris . ketua kelas juga berhak menjadi wakil kelas dalam kegiatan sekolah . seringkali seorang ketua kelas mempunyai kesempatan lebih untuk menjadi lebih dekat dengan wali kelas atau guru-guru tertentu , imbasnya : good relationship , bahkan bisa sebagai upaya halus untuk mengatrol nilai .

Tapi jangan lupa kalo seorang ketua kelas adalah orang pertama yang menjadi “terdakwa” saat segerombolan temannya bolos sekolah , atau saat kelasnya ramai saat ga ada guru yang mengajar . ketua kelas juga berkewajiban mengatur segala keperluan kelas , mulai dari pelajaran , kegiatan-kegiatan sekolah , menjembatani antara murid dengan guru , dan banyak lagi .

Kalo hanya mengejar uang , popularitas , fasilitas , relasi , atau apalah itu namanya , kita kan bisa menjadi “hanya” seorang biasa . tidak sekedar “orang biasa” , tapi orang biasa yang pintar , punya kemampuan , punya keahlian , punya teman dan sahabat-sahabat yang kompak , punya keunikan dalam diri sendiri (baca : keunikan yang positif ,red) yang membedakan dengan orang lain . menjadi orang pintar , memiliki keahlian dan mempunyai teman serta sahabat yang baik pasti mengalahkan “kebahagiaan” orang-orang yang berkuasa tapi tidak memiliki itu semua .

Semoga , tidak semua orang menjadi buta oleh “kuasa” . karena selalu , lakukan dulu kewajibanmu sebelum meminta-minta hakmu !!

parameter ke"mayoritas"an

Posted: 04 October 2008 by ranii mahardika in Labels: , , , ,
4

“Dari Bali iia ?”

Aku mengangguk pelan .

“Wah , enak iia di Bali , banyak pantai , banyak LIBUR !”
Aku hanya tersenyum ringan .

“Eh , di Bali itu kok ada patung-patung , pohon-pohon besar , batu en banyak benda yang diselimuti kain kotak-kotak hitem putih sih ? trus , dikasih sajen-sajen gitu . kenapa sih ?”

Aku mulai menjelaskan sepanjang pengetahuanku , mulai dari jaman dahulu dimana kami (Orang Bali ,red) masih menganut aliran dinamisme dan animisme ; sampai adanya prinsip Tri Hita Karana (Parahyangan , Palemahan , dan Pawongan ,red) . jadi “perlakuan” yang seperti dia tanya itu adalah salah wujud dari apa yang disebut “Palemahan” alias hubungan manusia dengan lingkungan ; sampai ujung-ujungnya aku menjelaskan “sajen” yang dimaksud itu disebut “canang” dan kain kotak-kotak hitam putih itu dinamai “kain poleng” , dan tetek bengek lainnya yang terkait pertanyaan tadi .

“Eh , sebenarnya tuhannya orang Bali itu Sang Hyang Widhi atau Brahma atau Wisnu atau siapa sih ? kok banyak banget ada tuhan ?”

Lagi-lagi aku berusaha menjawab pertanyaan itu , sambil berusaha mencari kata-kata yang mudah dan berupaya juga untuk mencari contohnya dalam agama lain . aku bilang kalo hanya ada satu tuhan , Hindu adalah agama yang menganut Monoteisme , tuhannya adalah Sang Hyang Widhi . tuhan kami mempunyai berbagai macam fungsi dan dinamai sesuai dengan fungsinya . aku ambil contoh ringan aja , sama seperti seorang manusia , “Bapakmu misalnya” aku bilang gitu . kalo di rumah , bapakmu adalah kepala keluarga , dan beliau dipanggil “Bapak” . kalo di sekolah (Bapaknya seorang guru) beliau dipanggil “Guru” . kebetulan bapaknya dulu pernah menjabat sebagai ketua RT , dan dipanggil “Pak RT” . nah , satu orang saja kan ! tapi punya banyak sebutan sesuai dengan fungsinya di masyarakat .

“Ohh , trus kenapa kalo kalian sembayang harus pake bunga ?”

Hei , aku mulai bingung . temanku ini bertanya karena memang dia ingin tau atau ada seekor udang di balik mahluk seorang manusia *dia , maksudku* . aku ga mau sembarangan menjawab , karena aku pikir setiap kata yang aku ucap pasti akan menimbulkan pertanyaan-pertanyaan lainnya . akhirnya aku yang balik bertanya , “Kalo kamu , kenapa kok sembayang pake penutup badan en dialasi gitu ?” dia menjawab dengan semangat , yang aku tangkap intinya adalah “wajib menutup aurat dan karena perintah agama” .

“Nah , dalam ajaran agamaku , Tuhanku tidak pernah mengatur kami untuk berpakaian seperti apa atau harus menggunakan apa untuk bersembayang . Beliau hanya mengisyaratkan sebuah pakaian yang bersih dan suci , untuk dikenakan . nah , mengapa bunga ? sebenarnya ada sebuah ayat dalam kitab suciku yang mengatakan bahwa Tuhanku “mengijinkan” kami menggunakan apa saja untuk “bertemu” denganNya . bunga , air , api , apapun , karena semua itu hanyalah media . hanya sebuah perantara . kami bahkan tidak menggunakan apapun saat melakukan Tri Sandhya .”

Aku menjawab demikian . aku melihat rasa semakin ingin tau dari wajah temanku itu . aku sadar , dari jawabanku malah akan timbul semakin banyak pertanyaan . dan bener aja . dia langsung bertanya tentang Tri Sandhya , tentang kitab suci (kami) , tentang pakaian sembayang *mulai dari pakaian sembayang sampai jenis-jenis pakaian adat yang ada* , tentang rumah khas Bali yang ada banyak gedungnya . ga kelupaan , dia bertanya tentang Ngaben . bertanya lagi dia tentang ritual Potong Gigi , “Kenapa giginya harus dipotong ?” , “Gigi yang mana yang harus dipotong?” , “Kapan harus potong gigi?” , “Berapa kali harus potong gigi?” , “Sakit ga?” . . . . .
Dan untuk pertanyaan yang terakhir aku jawab , “Tunggu iia , nanti aku kabari sakit atau enggaknya . aku belum merasakan , masih AKAN merasakan di bulan Oktober nanti .” (sesi tanya jawab ini dilakukan saat aku masi di Malang , sebulan yang lalu)

^^

Aduuh , susahnya jadi orang Bali [!!!] . apalagi untuk orang-orang perantauan yang kemudian tinggal dan menjadi kaum minoritas *dalam hal ini aku bilang minoritas dalam hal keyakinan beragama iia*

Selalu ada banyak pertanyaan . selalu ada banyak “pandangan miring” . selalu ada saja pertanyaan yang menyudutkan . tidak banyak dari mereka (si penanya ,red) yang berusaha bertanya untuk menambah pengetahuan mereka . kebanyakan pada awalnya mereka bertanya untuk “menghakimi” dan akhirnya mereka hanya manggut-manggut seraya berkata , “Ooooo . . . . Gitu iia ?”

Entah ini hanya perasaanku saja atau memang benar kenyataannya demikian , tapi mengapa orang-orang itu berpandangan sempit sekali iia ?? kenapa mereka sangat merasa “besar” dan “benar” ?? padahal hakekat beragama adalah hubungan pribadi *sangat pribadi* antara seorang manusia dengan Tuhannya . hubungan yang sifatnya vertikal ini , tidak dapat dinilai oleh sesama mahluk ciptaan TUHAN . sama-sama mahluk ciptaan kok malah saling beranggapan lebih .

Tolong jangan menganggap tulisan ini terlalu serius . tulisan ini bukan sebuah pembelaan , awal perdebatan , penyangkalan , atau penolakan terhadap sesuatu . ingatlah bahwa negara Indonesia adalah sebuah negara Hukum , yang artinya segala sesuatunya diatur oleh undang-undang . Indonesia bukan negara yang menganut ajaran agama tertentu , bukan negara Islam , bukan negara Hindu , bukan negara Kristen , bukan negara Protestan , atau bukan negara Buddha . jadi yang berlaku di Indonesia adalah hukum dan peraturan perundang-undangan , bukan agama . kita memang bukan negara yang menganut sekularisme sehingga segala sesuatunya dilakukan masing-masing . tapi tetap saja , kita ini bukan negara yang berlandaskan agama .

Jikapun ada sebuah agama yang mayoritas di negara ini , haruslah tetap dipahami bahwa bukan mayoritas itu yang menjadi hukum disini . mayoritas tetaplah mayoritas , HANYA mayoritas , BUKAN HUKUM . tapi , di Indonesia berlaku ironi terhadap pemahaman tersebut . hiks hiks hiks hiks

Aku hanya menyesalkan sikap beberapa oknum yang sebenarnya tidak mewakili pihak tertentu tersebut , yang akhirnya membuat masyarakat umum “mengernyitkan dahi” terhadap analogi yang mereka (oknum tersebut) wakili . intinya , ulah oknum itu justru membawa pandangan negatif terhadap apa yang mereka presentatifkan . kasihan apa yang mereka anggap “telah mereka wakilkan” . padahal mereka hanya sebagian kecil dan belum tentu mewakili semua unsur yang ada .

Aku tidak pernah beranggapan bahwa agama yang tercantum dalam KTPku adalah agama yang paling baik . karena yang namanya agama , dinilai baik tidaknya bukan dari anggapan seseorang , sekelompok , atau bahkan sedunia . ini AGAMA , teman-teman . ini adalah sebuah kepercayaan , keyakinan hidup . inilah yang kemudian menuntun hidupmu sampai hidup membawamu kembali pulang .

Ini adalah sesuatu tentang keyakinan yang seharusnya tidak “ditindas” oleh orang lain . untungnya aku pernah dan masih punya kesempatan mencicipi melihat lebih banyak “pemandangan” lain di daerah lain . jadi aku masih bisa melihat banyak hal lainn di belahan dunia lain . perbedaan itu indah , perbedaan itu yang membuat dunia menjadi berwarna . sebuah dominasi yang dominan malah akan menjadi ke-mono-an yang homogen , yang justru menjadikan sesuatu “membosankan” . dalam hal ini , bukan kebosanan yang menjadi dampak dari dominasi mayoritas itu .

Bentrok sosial yang mewarnai pemberitaan Indonesia , adalah dampak dari dominasi tersebut . mau sampai kapan Indonesia akan berkembang tanpa pernah maju ??

Tulisan ini tidak akan mengajak untuk melakukan sesuatu , karena sebuah langkah kecil tidak bisa berasal orang lain . sebuah langkah kecil diawali oleh diri sendiri .

serbuan batik RRC

Posted: 17 September 2008 by ranii mahardika in Labels: , ,
2

Dua hari yang lalu , saia mendengar berita tentang Serbuan Batik RRC ( Republik Rakyat Cina ) di Indonesia .

Jadi , belakangan ini ramai beredar batik buatan Cina ( yang masih diduga barang seludupan pula ) di pasaran Indonesia . batik buatan Cina ini memiliki corak dan motif yang mirip-mirip batik buatan Indonesia , namun dibandrol dengan harga yang jauh lebih murah .

Keberadaan batik Cina ini membuat omzet penjualan batik produksi Indonesia (terutamanya batik Solo dan Pekalongan ,red) , menjadi menurun sampai 1/3 dari biasanya . penurunan omzet penjualan batik Indonesia ini terutama adalah jenis batik cetak Solo . hal ini disebabkan karena sekali lagi corak dan motif pada batik Cina memiliki kemiripan dengan batik cetak Solo maupun batik cetak Pekalongan .

Nasib baik masih menaungi jenis batik tulis Pekalongan , jenis batik ini jelas memiliki motif , corak dan jenis yang berbeda dengan jenis batik cetak . namun kenyataan ini menimbulkan dua pertanyaan besar di benak saia . jika suatu saat nanti , Cina atau negara-negara lain di dunia ini mulai melakukan hal yang sama terhadap produk Indonesia lainnya , apa yang akan bangsa ini lakukan ??

Kejadian ini mengulik rasa nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia . setelah tempe , dan beberapa rempah hasil kekayaan Indonesia diakui Malaysia dan Jepang ; setelah Reog , angklung dan beberapa bentuk kesenian dan budaya Indonesia diakui pula oleh Malaysia (lagi !) ; setelah beberapa ahli pasti , orang-orang pintar Indonesia dicaplok negara Jerman , Belanda , Singapura dan beberapa negara maju lainnya ; setelah beberapa pulau di apakah Batik ini lagi-lagi akan diplot menjadi hak milik negara lain ?? padahal sebelumnya , Malaysia pun sudah mematenkan batik sebagai kekayaan produk nasionalnya .

Peristiwa ini jelasnya juga mengulik uji kemampuan bisnis marketing batik Indonesia . pada masa ini , batik telah bertransformasi menjadi fashion nasional yang membumi . ini terbukti dari berkembangnya dan booming –nya fashion batik yang telah mencapai pasar segala kelas masyarakat dan memikat hati pasar segala usia di Indonesia ini . kedua peristiwa ini ( booming –nya fashion batik dan adanya serbuan batik Cina ) jelaslah menjadi sebuah ujian bagi para pemasar dan pebisnis batik untuk menjadi nasionalis . mampukah orang Indonesia menjadi tuan rumah di negerinya sendiri ?



malang , 12 September 2008

mengepung KPU

Posted: 08 September 2008 by ranii mahardika in Labels: , ,
0

Mengepung KPU ? Instruksi GusDur Minggu Malam karena Gusdur merasa KPU dan KPUD mencurangi dirinya . karena diterimanya daftar caleg PKB kubu Muhaimin Iskandar . dan alamat kantor yang didaftarkan adalah alamat kantor PKB pusat kubu Muhaimin ??

Halahhh …
Saia sedang menonton acara televisi kesukaan saia , Buletin Siang RCTI (hahaha , sepertinya saia penggemar acara-acaranya RCTI ia ??) . dan ada beberapa berita yang menarik perhatian saia , seperti berita ini . saia memang sudah mendengar berita ini minggu malam . saia membacanya di sebuah running news di Global TV . ia ampun ..

Sebegitu wah-nya kah dunia politik di Indonesia ?? sampai-sampai dalam satu tubuh partai pun , terjadi perebutan kekuasaan . . .
Beberapa bulan yang lalu , menyusul konflik internal PKB mengenai keputusan hasil muktamar (sejenis Musyawarah Luar Biasa mungkin ia ??) PKB yang mengeluarkan (atau memecat ?) Muhaimin Iskandar dari partai tersebut , dan menetapkan Yeni Wahid sebagai sekjennya . (iah , sumthing like that lah . kalo salah , tolong koreksi iaaa ?) . eh , hasil muktamar yang seharusnya adalah pemegang kekuasaan tertinggi dalam partai tersebut malah di”kudeta” oleh para pendukung Muhaimin dan oleh yang bersangkutan .

Kubu Muhaimin malah mengadakan “muktamar tandingan” yang hasilnya menetapkan Muhaimin sebagai ketum PKB kubu ini .
Permasalahan dimulai saat proses pemilu , pendaftaran partai politik peserta pemilu , kedua kubu pun sama-sama mendaftarkan PKB dengan ketum dan pengurus yang berbeda . satu PKB , dua ketum , dan pengurus yang berbeda . hahahahaha . itulah salah satu ulah elit politik yang belum lulus belajar DEMOKRASI .

Hasilnya , KPU meminta kedua kubu untuk bermusyawarah dan mendaftarkan hanya satu PKB dengan satu nahkoda . namun , keduanya (kedua kubu ,red) tetap tak bergeming . pengadilan negeri memutuskan bahwa yang berhak mendaftarkan ke KPU adalah PKB kubu Muhaimin . KPU pun menganggap PKB yang terdaftar pada mereka adalah PKB dengan kepemimpinan Muhaimin . tentu saja keputusan itu tidak memuaskan bagi pihak GusDur .

Pihak GusDur menggugat KPU dan menyatakan bahwa KPU tidak adil dan berniat menjatuhkan Dia , sampai akhirnya muncul berita di atas tadi .

Jadi pertanyaan buat saia , untuk apa GusDur yang merupakan salah satu tokoh besar yang dihormati dan mempunyai nama besar di Indonesia , sampai mengeluarkan instruksi yang seperti itu ??
Beliau kan seharusnya lebih berhati-hati dalam mengeluarkan pernyataan , karena Beliau seharusnya memberi contoh . bukannya malah mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang tidak seharusnya .
:hufh !

Pemilu 2009

Posted: by ranii mahardika in Labels: ,
0

Tadi malem , nonton sebuah acara di RCTI yang temanya tentang Pemilu 2009 . lupa sih nama acaranya apa . topik pembahasannya tentang partai-partai peserta Pemilu 2009 . tentang kemiripan logo , lambang , warna dan atribut partai peserta pemilu mendatang ini .

Jadi , untuk Pemilu mendatang ini , diikuti oleh 24 Parpol (Partai Politik ,red) dengan jumlah caleg mencapai 129ribuan orang .

Yang pertama , tentang caleg dulu deh . jadi , pemilu 2009 ini diwarnai dengan banyaknya artis (aktris dan aktor , penyanyi , mantan artis , dan sejenisnya) yang mendaftar menjadi caleg . kebanyakan mereka didaftarkan oleh partai-partai kecil baru yang (mungkin) pemilu ini adalah pemilu perdana mereka . jadi muncul pertanyaan di hati saia , apakah kebanyakan artis-artis itu mengerti akan apa yang mereka lakukan itu (menjadi caleg ,red) ?? apakah mereka mengerti bahwa menjadi orang yang duduk di kursi panas itu bukan sekedar seperti berakting atau sekedar bisa bernyanyi seperti yang biassa mereka lakukan ? apa mereka tau akan tanggung jawab yang akan mereka emban nantinya ? apakah mereka mengerti tentang dunia politik ? atau apakah mereka MAMPU menjadi wakil rakyat , dan benar-benar bisa menyuarakan “apa yang rakyat mau” di gedung DePeeR nanti ?

Saia bukannya menyamaratakan artis-artis itu . memang tidak semuanya seperti yang saia bayangkan . ada beberapa yang memang “lahir dan dibesarkan” di dunia politik . sedikit dari semua itu memang sudah mencicipi asam garam percaturan politik di Indonesia . sedikit itu memang MENGERTI politik , dan MENGETAHUI dengan jelas penempatan mereka sebagai caleg . tapi itu kan hanya sedikit dari mereka . dan , dari sedikit itu , kita juga ga tau kan , apa mereka benar-benar mampu melaksanakan tugas mereka dengan baik , atau hanya sekedar memanfaatkan apa yang bisa mereka peroleh dari “hasil menjadi orang legislatif” tersebut .

Kita kan memang ga pernah bisa mengetahui pikiran orang . kita ga tau motivasi artis-artis itu menjadi caleg . tapi , ia mari kita lihat saja nanti . apakah mereka mampu menjalankan tugas yang tidak ringan itu , apabila nantinya mereka benar-benar berhasil menembus pintu gedung senayan .

Yang kedua , tentang jumlah peserta pemilu , alias tentang partai peserta pemilu 2009 . ada yang tau jumlah parpol peserta pemilu saat ini ? terakhir saia mendengar sih ada 24 parpol yang telah lulus uji verifikasi KPU dan sah menjadi partai peserta pemilu 2009 . (tolong koreksi bila saia salah ia!!)
Iah , sejak memasuki orde reformasi medio Mei 1998 yang lalu , proses demokrasi di Indonesia berkembang pesat dengan memasuki paradigma baru . konsep kebebasan berekspresi dielu-elukan di seluruh pelosok negeri . pers kini memiliki akses yang luas (dan bebas!) untuk mendapatkan informasi dan menyebarluaskannya kepada khalayak ramai .setiap orang kini memiliki hak suara yang utuh . setiap mulut sekarang ini bisa bicara apa saja (padahal kita tau , jumlah mulut di Indonesia ini tidak sedikit!!) . dampak yang terkait dengan dunia politik pun terlihat dengan berbondong-bondongnya orang-orang dengan kelompoknya (kalo ga bisa disebut “massa” !) yang membentuk partai (politik) .

Jadi , pada masa orde baru , kita semua taulah bahwa hanya ada tiga partai yang bekembang di Indonesia . tiga partai tersebut PPP (Partai Persatuan Pembangunan) , PDI (Partai Demokrasi Indonesia) dan Golkar (Golongan Karya) . yang terakhir disebut adalah sebuah frasa yang bisa disebut “penguasa orde baru” . pada masa itu , Indonesia menganut asas Demokrasi dengan musyawarah mufakat sebagai falsafah nya . keadaan politik Indonesia terkesan “adem ayem” pada masanya . iah , terlepas dari kebobrokan kerangka politiknya , setidaknya kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara pada saat itu benar-benar aman terkendali . lalu , bagaimana setelah Soeharto turun tahta ??

Setelah itulah , sejak reformasi ramai-ramai dituntut , terjadi perubahan perpolitikan (dan ekonomi!) yang sangat cepat dan drastis yang akhirnya mengakibatkan terjadinya paradigma baru dalam kehidupan politik Indonesia . partai politik yang dulunya hanya ada tiga partai , saat ini seakan “beranak cucu” menjadi puluhan .
Mereka mengatasnamakan kebebasan berkumpul (dulu pasal 28 UUD’45 , sekarang ga tau lah !) dengan membentuk partai dengan idealisme yang mengatasnamakan “keutuhan NKRI” . apa jadinya ? 200 juta penduduk Indonesia dibuat bingung dengan banyaknya parpol dengan janji ini itu . sayangnya penduduk kita , bukannya bingung dengan figur partai yang mana yang mampu mewujudkan kesejahteraan masyarakat Indonesia . yang ada malah , penduduk bingung karena mereka tidak mengenal parta-partai yang ikut bertarung dalam pemilu . apalagi banyak partai yang menggunakan lambang , logo maupun warna yang mirip-mirip .

Berdasarkan wawancara yang dilakukan RCTI secara acak terhadap masyarakat (jakarta) , yang saia tonton acaranya kemaren itu , kebanyakan dari narasumber SAMA SEKALI TIDAK TAU jumlah partai peserta pemilu ; nama , lambang , logo ataupun warna parpol peserta ; ataupun sekedar mengetaui figur atau tokoh partai yang bersangkutan .

Weleh weleh weleh .
Kalo sampai terjadi hal seperti ini , siapa yang harus bertanggung jawab ? KPU , partai-partai politik yang bersangkutan , atau pemerintah ?? padahal masa kampanye pemilu kali ini merupakan massa pemilu yang paling panjang dari sejarah pemilu di Indonesia . padahal pemilu kan tinggal beberapa bulan lagi . apakah negara yang telah 63 tahun merdeka ini akan melakukan pemilihan umum dalam karung ? seperti memilih kucing dalam karung .
:hufh !